Jumat, 20 Januari 2017

Legenda Telaga Biru

Legenda Telaga Biru 
 
Jaman dahulu ada sebuah kerajaan di Jawa Barat bernama Kutatanggeuhan. Kutatanggeuhan merupakan kerajaan yang makmur dan damai. Rakyatnya hidup tenang dan sejahtera karena dipimpin oleh raja yang bijaksana. Raja Kutatanggeuhan bernama Prabu Suwartalaya dan permaisurinya bernama Ratu Purbamanah. Sayang Prabu dan Ratu belum dikaruniai keturunan sehingga mereka selalu merasa kesepian. Rakyat pun sangat mengkhawatirkan keadaan ini, karena siapa yang akan menggantikan Prabu dan Ratu kelak?
Akhirnya Raja memutuskan untuk bersemedi. Dia pergi ke gunung dan menemukan sebuah gua. Disanalah dia bersemedi, berdoa kepada Tuhan supaya dikaruniai keturunan. Setelah berhari-hari Prabu Suwartalaya berdoa, suatu hari tiba-tiba terdengar suara gaib.
“Benarkah kau menginginkan keturunan Prabu Suwartalaya?” kata suara gaib tersebut.
“Ya! Saya ingin sekali memiliki anak!” jawab Prabu Suwartalaya.
“Baiklah! Doamu akan terkabul. Sekarang pulanglah!” kata suara gaib.
Maka Prabu Suwartalaya pun pulang dengan gembira. Benar saja beberapa minggu kemudian, Ratu pun mengandung. Semua bersuka cita. Terlebih lagi ketika sembilan bulan kemudian Ratu melahirkan seorang putri yang cantik. Dia diberi nama Putri Gilang Rukmini. Prabu Suwartalaya mengadakan pesta yang meriah untuk merayakan kelahiran putri mereka. Putri Gilang Rukmini pun menjadi putri kesayangan rakyat Kutatanggeuhan.
Beberapa tahun telah berlalu, putri Gilang Rukmini tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita. Sayang putri Gilang Rukmini sangat manja dan berperangai tidak baik, mungkin karena Prabu dan Ratu sangat memanjakannya. Maklumlah anak semata wayang. Apapun yang diminta oleh putri pasti segera dituruti. Jika tidak putri akan sangat marah dan bertindak kasar. Namun rakyat tetap mencintainya. Mereka berharap suatu hari perangai putri akan berubah dengan sendirinya.
Seminggu lagi putri Gilang Rukmini akan berusia tujuh belas tahun. Prabu Suwartalaya akan mengadakan pesta syukuran di istana. Semua rakyat boleh datang dan memberikan doa untuk putri Gilang Rukmini. Rakyat berkumpul dan merencanakan hadiah istimewa untuk putri kesayangan mereka. Akhirnya disepakati bahwa mereka akan menghadiahkan sebuah kalung yang sangat indah. Kalung itu terbuat dari emas terbaik dan ditaburi batu-batu permata yang beraneka warna. Maka rakyat dengan sukarela menyisihkan uang mereka dan mengumpulkannya untuk biaya pembuatan hadiah tersebut. Mereka memanggil pandai emas terbaik di kerajaan untuk membuatnya.
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Rakyat berduyun-duyun datang ke halaman istana tempat pesta ulang tahun putri Gilang Rukmini diadakan. Di depan istana sudah berdiri sebuah panggung yang megah. Rakyat bersorak-sorai saat Prabu dan Ratu menaiki panggung. Apalagi ketika akhirnya putri Gilang Rukmini keluar dari istana dan melambaikan tangannya. Rakyat sangat gembira melihat putri yang cantik jelita. Pesta pun berlangsung dengan meriah.
Kini tiba saatnya rakyat mempersembahkan hadiah istimewa mereka. Mereka memberikan kotak berisi hadiah itu kepada putri Gilang Rukmini. Prabu Suwartalaya membuka kotak tersebut dan mengeluarkan kalung beraneka warna yang sangat indah dan memberikannya kepada putri Gilang Rukmini. putri Gilang Rukmini memandang kalung itu dengan kening berkerut. Prabu Suwartalaya memandang putrinya, “Ayo nak, kenakan kalung itu! Itu adalah tanda cinta rakyat kepadamu. Jangan kecewakan mereka nak!”
“Iya putriku. Kalung itu sangat indah bukan. Ayo kenakan! Biar rakyat senang,” kata Ratu Purbamanah.
“Bagus apanya? Kalung ini jelek sekali. Warnanya norak, kampungan! Aku tidak mau memakainya!” teriak putri Gilang Rukmini.
Dia membanting kalung itu ke lantai hingga hancur. Prabu Suwartalaya, Ratu Purbamanah dan rakyat Kutatanggeuhan hanya bisa tertegun menyaksikan kejadian itu. Lalu tangis Ratu Purbamanah pecah. Dia sangat sedih melihat kelakuan putrinya. Akhirnya semua pun meneteskan air mata, hingga istana pun basah oleh air mata mereka. Mereka terus menangis hingga air mata mereka membanjiri istana, dan tiba-tiba saja dari dalam tanah pun keluar air yang deras, makin lama makin banyak. Hingga akhirnya kerajaan Kutatanggeuhan tenggelam dan terciptalah sebuah danau yang sangat indah.
Kini danau itu masih bisa kita temui di daerah Puncak, Jawa Barat. Danau itu dinamakan Telaga Warna, karena jika hari cerah, airnya akan memantulkan cahaya matahari hingga tampak berwarna-warni. Katanya, itu adalah pantulan warna yang berasal dari kalung putri Gilang Rukmini.

The Story of Tea

The Story of Tea
      Did you know that tea is one of the popular drinks today? There are many kinds of tastes and colors. THe drinking of tea plays differenr roles in cultures around the world. In some countries it has become an important social activity, while in others it has become a tradition. Let's go and explore the world of tea!!
 Hasil gambar untuk gambar teh

The Beginnings
     The legend of tea began about 4700 years ago in China. Emperor Shen Nong was traveling to a distant area of China. While he was waiting for his water to boil, a leaft from a wild tea bush fell into it. The leaft turned the water brown, but the Emperor still drank it. It tasted good and the idea of drinking tea began.
Tea on the Move
     China was the first major producer of tea. In the eight century, monks took seeds of the tea plant to Japan. There the growing and drinking of tea became popular. In the sixteenth century, traders and missionaries who had traveled to Asia took tea back to Europe. Holland was the first European country to develop a taste foe tea. Next, people in France and Germany began to drink it. However, in the seventeenth century tea became very popularwhen it reached England. At first tea was a drink for the rich, but as it became cheaper it was enjoyed by all.

A Tradition of Tea
     Traditions also developed with the drinking of tea. In England, a lady of nobility started the tradition of "Afternoon Tea". In those days dinner was eaten late. The drinking of tea some food stopped her from feeling hungry. Soon she started inviting other ladies to join her in the afternoon. Meeting with friends has become an important part of "Afternoon Tea".

Growing Tea
     As tea became popular around the world, more countries began to grow it. Major tea producing areas are China, India and Sri Lanka. The most common varieties of tea are black, green and oolong. They all come from the same tea plant, but are processed differently.

How is Tea Drink?
    Tea is usually drink hot. Black tea can be served plain, but sometimes milk, sugaror lemon are added to it. In some countries, such as India, spices are used to make masala tea. In Tibet, butter, milk, salt and sugar are used to make traditional tea. People in Russia like their tea sweet and use jam or honey. Green tea and oolong tree are traditionally drunk without adding anything. They can also be drunk cold. How do people in your country drink tea?Iced tea has become a popular drink in man countries. especially during the hot summer months. It is said that iced tea was developed by accident. At the 1904 World's Far in St.Louis, USA, a trader was preparing hot tea samples. There was little interest in his tea, because the weather was so hot. Without thinking, he put ice into his hot tea, and so the idea of iced tea was born.

The Future of Tea
     With each new generation of tea drinkers, and as more people travel the world, new combinations of tea drinks are being made. Herbal teas have also become popular. Sometimes they are mixed with fruit and spices. Research today has also shown that some types of tea, like green tea, are very good for you!       
  

Sejarah Cokelat

Sejarah Cokelat

Hasil gambar untuk gambar pohon kakao
Cokelat dihasilkan dari kakao (Theobroma cacao) yang diperkirakan mula-mula tumbuh di daerah Amazon utara sampai ke Amerika Tengah. Mungkin sampai ke Chiapas, bagian paling selatan Meksiko. Orang-orang Olmec memanfaatkan pohon dan, mungkin juga, membuat “cokelat” di sepanjang pantai teluk di selatan Meksiko. Dokumentasi paling awal tentang cokelat ditemukan pada penggunaannya di sebuah situs pengolahan cokelat di Puerto Escondido, Honduras sekitar 1100 -1400 tahun SM [2]. Residu yang diperoleh dari tangki-tangki pengolahan ini mengindikasikan bahwa awalnya penggunaan kakao tidak diperuntukkan untuk membuat minuman saja, namun selput putih yang terdapat pada biji kokoa lebih condong digunakan sebagai sumber gula untuk minuman beralkohol.
Residu cokelat yang ditemukan pada tembikar yang digunakan oleh suku Maya kuno di Río Azul, Guatemala Utara, menunjukkan bahwa Suku Maya meminum cokelat di sekitar tahun 400 SM. Peradaban pertama yang mendiami daerah Meso-Amerika itu mengenal pohon “kakawa” yang buahnya dikonsumsi sebagai minuman xocolātl yang berarti minuman pahit. Menurut mereka, minuman ini perlu dikonsumsi setiap hari, entah untuk alasan apa. Namun, tampaknya cokelat juga menjadi simbol kemakmuran.
Cara menyajikannya pun tak sembarangan. Dengan memegang wadah cairan ini setinggi dada dan menuangkan ke wadah lain di tanah, penyaji yang ahli dapat membuat busa tebal, bagian yang membuat minuman itu begitu bernilai. Busa ini sebenarnya dihasilkan oleh lemak kokoa (cocoa butter) namun kadang-kadang ditambahkan juga busa tambahan. Orang Meso-Amerika tampaknya memiliki kebiasaan penting minum dan makan bubur yang mengandung cokelat.
Biji dari pohon kakao ini sendiri sangat pahit dan harus difermentasi agar rasanya dapat diperoleh. Setelah dipanggang dan dibubukkan hasilnya adalah cokelat atau kokoa. Diperkirakan kebiasaan minum cokelat suku Maya dimulai sekitar tahun 450 SM - 500 SM. Konon, konsumsi cokelat dianggap sebagai simbol status penting pada masa itu. Suku Maya mengonsumsi cokelat dalam bentuk cairan berbuih ditaburi lada merah, vanila, atau rempah-rempah lain. Minuman Xocoatl juga dipercaya sebagai pencegah lelah, sebuah kepercayaan yang mungkin disebabkan dari kandungan theobromin di dalamnya.
Ketika peradaban Maya klasik runtuh (sekitar tahun 900) dan digantikan oleh bangsa Toltec, biji kokoa menjadi komoditas utama Meso-Amerika. Pada masa Kerajaan Aztec berkuasa (sampai sekitar tahun 1500 SM) daerah yang meliputi Kota Meksiko saat ini dikenal sebagai daerah Meso-Amerika yang paling kaya akan biji kokoa. Bagi suku Aztec biji kokoa merupakan “makanan para dewa” (theobroma, dari bahasa Yunani). Biasanya biji kokoa digunakan dalam upacara-upacara keagamaan dan sebagai hadiah.
Cokelat juga menjadi barang mewah pada masa Kolombia-Meso Amerika, dalam kebudayaan mereka yaitu suku Maya, Toltec, dan Aztec biji kakao (cacao bean) sering digunakan sebagai mata uang [3]. Sebagai contoh suku Indian Aztec menggunakan sistem perhitungan dimana satu ayam turki seharga seratus biji kokoa dan satu buah avokad seharga tiga biji kokoa [4]
Sementara tahun 1544 M, delegasi Maya Kekchi dari Guatemala yang mengunjungi istana Spanyol membawa hadiah, di antaranya minuman cokelat.
Cokelat cair.
Di awal abad ke-17, cokelat menjadi minuman penyegar yang digemari di istana Spanyol. Sepanjang abad itu, cokelat menyebar di antara kaum elit Eropa, kemudian lewat proses yang demokratis harganya menjadi cukup murah, dan pada akhir abad itu menjadi minuman yang dinikmati oleh kelas pedagang. Kira-kira 100 tahun setelah kedatangannya di Eropa, begitu terkenalnya cokelat di London, sampai didirikan “rumah cokelat” untuk menyimpan persediaan cokelat, dimulai di rumah-rumah kopi. Rumah cokelat pertama dibuka pada 1657. Dan resep es coklat pertama diketahui berasal dari Inggris pada tahun 1668.[5]
Pada tahun 1689 seorang dokter dan kolektor bernama Hans Sloane, mengembangkan sejenis minuman susu cokelat di Jamaika dan awalnya diminum oleh suku apothekari, namun minuman ini kemudian dijual oleh Cadbury bersaudara [6].
Semua cokelat Eropa awalnya dikonsumsi sebagai minuman. Baru pada 1847 ditemukan cokelat padat. Orang Eropa membuang hampir semua rempah-rempah yang ditambahkan oleh orang Meso-Amerika, tetapi sering mempertahankan vanila. Juga mengganti banyak bumbu sehingga sesuai dengan selera mereka sendiri mulai dari resep khusus yang memerlukan ambergris, zat warna keunguan berlilin yang diambil dari dalam usus ikan paus, hingga bahan lebih umum seperti kayu manis atau cengkeh. Namun, yang paling sering ditambahkan adalah gula. Sebaliknya, cokelat Meso-Amerika tampaknya tidak dibuat manis.
Cokelat Eropa awalnya diramu dengan cara yang sama dengan yang digunakan suku Maya dan Aztec. Bahkan sampai sekarang, cara Meso-Amerika kuno masih dipertahankan, tetapi di dalam mesin industri. Biji kokoa masih sedikit difermentasikan, dikeringkan, dipanggang, dan digiling. Namun, serangkaian teknik lebih rumit pun dimainkan. Bubuk cokelat diemulsikan dengan karbonasi kalium atau natrium agar lebih mudah bercampur dengan air (dutched, metode emulsifikasi yang ditemukan orang Belanda), lemaknya dikurangi dengan membuang banyak lemak kokoa (defatted), digiling sebagai cairan dalam gentong khusus (conched), atau dicampur dengan susu sehingga menjadi cokelat susu (milk chocolate).

Sumber:  https://id.wikipedia.org/wiki/Cokelat

Rabu, 18 Januari 2017

The Golden Goose 1 (English)

The Golden Goose
Hasil gambar untuk The Golden goose 
    There was a man who had three sons. Most people consider his youngest son very silly, and they often mock and make fun of him. One day the eldest son was going to the forest to cut wood. Before he left, his mother prepared delicious pancakes and a bottle of wine for his journey, so he will not suffer from hunger or thirst.
When the eldest son entered the forest, he met a gray old man. The old man greeted him politely. "Good-morning,” said the old man. "Please give me some food and something to drink, because I am very hungry and thirsty.”
The clever son replied: "No. If I give you my cake and wine, I will not have any for myself. So go away!" He left the man standing and went on.
The eldest son began cutting down a tree. But then, somehow he made a false stroke. His axe slipped and cut his arm so badly. He had no other choice than to go home and have his injury taken care of.
The following day, the second son also wanted to go into the forest to cut wood. So his mother gave him a delicious cake and a bottle of wine. When he entered the wood, he met the same old man. The old man begged for a little piece of cake and some wine because he was hungry and thirsty. The second son answered very rudely: "No. I want these for myself, so go away!"
       
He walked on, leaving the old man standing in the road. His punishment came soon after that. Somehow he hit his leg with his axe, got terribly injured, and went home in great pain.
The youngest son said to his father, "Let me go to the forest to cut wood."
But his father replied: "No. Your smart brothers have been hurt already. It would surely be worse for you, who have no experience in wood-cutting."
But the youngest son begged so hard to his father to be allowed to go to the forest. His father finally said : "Fine, go to the forest to cut wood. But don't blame me if something bad happened to you."
Unlike what she prepared for his older brothers, the mother only prepared a badly made cake, and a bottle of water.
When the youngest son reached the wood, the same old man met him. Just like before, the old man said: "Please give me some food and water from your bottle. I am very hungry and thirsty."
"Oh," replied the youngest son, "But I only have a badly made cake, which has been baked in the ashes, and a bottle of water. But let's sit down, and eat and drink together."

So they seated themselves. When the young man opened his basket, he was really surprised. The badly made cake had been turned into a beautiful delicious cake. And the bottle of water turned into wine. After they had eaten and drank, the old man said to him: "Thank you. Because you have been very kind, and shared your dinner with me, I will make you very lucky in the future. There is an old tree in the forest. Cut the tree down, and you will find something good at the root." Then, the old man left him.
The young man set to work. After succeeded in felling the old tree, he found a goose, sitting at the roots. It was not an ordinary goose. The goose's feathers were of pure gold. He took the goose, and, instead of going home immediately, he carried it with him to an inn nearby, where he was going to pass the night.
 Hasil gambar untuk The Golden goose

The owner of the inn had three daughters. They looked at the golden goose enviously. They had never seen such a wonderful goose. They all wanted to have at least one of its golden feathers.
    "Ah," thought the eldest daughter, "Soon I will have an opportunity to pluck one feather." After the young man left the room, the eldest daughter quickly approached the bird and took hold of its wing to pluck one feather. But then, her finger and thumb got stuck and she could not set herself free. Minutes later the second sister came in. She also wanted to get a golden feather. But when she touched her sister to move her from the goose, her hand got stuck to her sister’s dress. Neither of them could free herself. Minutes later, the third sister came with the same intention, to pluck a golden feather. "No, keep away, keep away!" screamed the other two. "Don't do it, and keep away!"
The youngest daughter did not understand why she should keep away. So she touched her second sister, and immediately got stuck. They could not free themselves so they all had to remain by the goose all night.
In the morning the young man came in, and took the golden goose. He simply went away. He did not even care about the three girls, who were following close behind him. And because the young man walked very quickly, the three girls had to run one behind the other, because they are magically stuck to the golden goose.

The Golden Goose 2 (English)

The Golden Goose

Hasil gambar untuk The Golden goose

Most people who saw the young man and the three girls thought that it was inappropriate for the girls to run after a young man like that. But when they tried to stop the three girls, four of them also got magically stuck. When the young man finally arrived in a city, he got seven people attached to his golden goose.
The city was ruled by a king who had a daughter who seemed to be sad all the time.  No one could make her laugh. That is why the king issued a decree that whoever would make the princess laugh should have her in marriage.
When the young man heard this, he ran in front of the princess, and the whole seven attached to his golden goose followed after him. The sight was so ridiculous that the moment the princess saw it she burst into a violent fit of laughter and they thought she would never stop.
After this, the young man went to the king. He demanded his daughter in marriage. But the king did not quite like to have the young man for a son-in-law. So the king said that, before he could marry his daughter, the young man must bring him a man who could drink all the wine in the king's storage.

The young man quickly went into the forest. He thought, "If anyone can help me, it is the gray old man with his magic." When he arrived at the place where he had cut down the old tree, he met a man with a very sad face.
The young man asked him why he looked so sad.
"Oh," he said, "I am very very thirsty and nothing seems able to quench it. And I cannot simply drink cold water. I have already emptied a cask of wine, but it was just like a drop of water on a hot stone."
"I can help you," said the young man. "Come with me, and you shall have your fill, I promise you."
Upon this he led the man into the king’s wine storage, where he opened the casks one after another, and drank and drank till his back ached. Before the end of the day he had quite emptied the king’s wine storage.
Again the young man asked for his bride. But the king did not like the thought of giving his daughter to such a common fellow. To get rid of the young man he made another condition. The king said that to marry his daughter, first he must find someone that's able to eat up a whole mountain of bread.

Just like before, the young man went back to the forest. And there in the same place sat a man binding himself round tightly with a belt, and making the most horrible faces. As the young man approached, he cried, "I have eaten a whole ovenfull of rolls, but it has not satisfied me a bit; I am as hungry as ever, and my stomach feels so empty that I am obliged to bind it round tightly, or I should die of hunger."
The young man could hardly contain himself for joy when he heard this. "Get up," he exclaimed, "and come with me, and I will give you plenty to eat, I’ll warrant."
So he led him to the king’s court, where his majesty had ordered all the flour in the kingdom to be made into bread, and piled up in a huge mountain. The hungry man placed himself before the bread, and began to eat, and before evening the whole pile had disappeared.
Then the young man went a third time to the king, and asked for his bride, but the king made several excuses, and at last said that if he could bring him a ship that would travel as well by land as by water, then he should, without any further conditions, marry his daughter.
The young man went at once straight to the forest, and saw the same old gray man to whom he had given his cake. "Ah," he said, as the young man approached, "I was the one who sent the men to eat and drink, and I will also give you a ship that can travel by land or by sea, because when you thought I was poor you were kind-hearted, and gave me food and drink."
The young man took the ship, and when the king saw it he was really surprised. But the king could not any longer refuse to give him his daughter in marriage. The wedding was celebrated with great ceremony, and after the king’s death the simple wood-cutter inherited the whole kingdom, and lived happily with his wife.

Nrgeri Kincir Angin

Belanda Sang Negeri Kincir Angin

 
Belanda merupakan salah satu Negara yang berada Eropa Barat, selain sebagai Negara kincir angin, Belanda juga mendapat julukan Negara bunga tulip dan Negara seribu tanggul. Disebut negeri seribu tanggul karena di Belanda banyak sekali tanggul raksasa yang berfungsi untuk membendung air laut agar tidak mengalir ke daratan. Ibukota Belanda adalah Amsterdam. Secara astronomis Belanda terletak antara 500 LU-530 LU dan 30 BT-70 BT. Dari luas wilayah Belanda 41.160 KM2 Gunung Falselburg (321M) sebagai puncak tertinggi di negeri Belanda. Daerah tertinggi ada diantara 20M- 100M diatas permukaan laut. Hal ini merujuk kepada nama nama ’Nederland’ yang artinya letak tanah yang rendah (’neder’ = rendah).
Daerah yang tingginya berada di bawah permukaan air laut pasang, daerah ini dapat ditempati dengan berkat adanya tanggul dan pompa dengan memanfaatkan kincir angin untuk mengeringkan lahan : air tanah itu di pompa keluar lahan yang di namakan dengan polder. Adanya angin secara teratur menjamin pompa itu dapat berfungsi secara teratur menjamin pompa itu dapat berfungsi secara teratur pula[6]. Sejak berabad-abad Belanda secara massive telah menggunakan kincir angin baik untuk menggiling gandum maupun untuk memompa air demi mengeringkan negerinya yang lebih rendah dari laut.
Walaupun semua kincir angin di Belanda hampir terlihat sama, sebenarnya terdapat berbagai jenis dari kincir angin tersebut. Menurut fungsinya, kincir angin dibagi menjadi dua jenis yaitu kincir angin untuk kepentingan industri dan kincir angin untuk penyaluran air. Kincir angin untuk kepentingan industri terdapat banyak jenisnya dan mereka diberi nama sesuai dengan penggunaan mereka, contohnya kincir angin untuk menggergaji (sawmill ) atau kincir angin untuk menggiling jagung (cornmill). Jenis kincir angin yang paling tua adalah kincir angin standar (standaardmolen atau postmill ). Kincir angin ini dapat menangkap dan mengalihkan banyak angin dan terlebih lagi dengan kincir air yang terpasang di dalamnya, dapat membantu proses pengalihan dan pengeringan air lebih cepat. Oleh karena itu, kincir angin tipe ini banyak ditemukan di pusat kota di Belanda, karena bermanfaat sekali untuk proses pengalihan angin dan air. Masih banyak jenis-jenis lain dari kincir angin, seperti contohnya kincir angin kecil (wipmolen) dan menara kincir angin (torenmolen).
Selain digunakan untuk membantu proses irigasi, menggiling hasil panen, dan kadang kincir angin juga digunakan sebagai sarana informasi: kalau anggota keluarga si pemilik kincir angin meninggal, maka posisi kincir menyimpang dari biasanya. Fungsi dari kincir angin pun sekarang bertambah, antara lain untuk mengalihkan air dan angin, mengasah kayu, memproduksi kertas, mengeluarkan minyak dari biji juga sebagai objek wisata. Kinderdijk, dari 1000 yang berada di Belanda 19 ada ditempat tersebut. Kincir angin tersebut tertata rapi sehingga menghasilkan pemandangan menarik untuk pengunjungnya. Banyak lukisan dan fotografi di buat di sini, karena lokasi ini sangatlah indah untuk dilihat terutama pada saat matahari terbenam. Selain di Kinderdijk, kamu juga bisa datang ke kincir angin yang dimiliki oleh perseorangan. Setiap hari Sabtu pertama dalam setiap bulan atau setiap tanggal 13 Mei, yang merupakan hari kincir angin, mereka akan membuka kincir angin mereka untuk umum. Namun, rata-rata pemilik kincir angin ini membukannya setiap hari, karena mereka bangga akan kincir angin mereka dan mereka biasanya memberikan keterangan tentang cara kerja dari kincir angin tersebut.
Dari segi ekonomi, sumber energi angin mampu mengurangi penggunaan bahan bakar minyak, menciptakan lapangan pekerjaan baru di bidang pembuatan dan pemeliharaan kincir angi maupun distribusinya,kincir angin juga berperan dalam bidang objek wisata. Dari sisi lingkungan hidup, energi angin tidak menghasilkan polusi, tak memerlukan bahan bakar, tak menimbulkan efek rumah kaca, tak menghasilkan zat berbahaya dan sampah radioaktif. Tidak salah kalau Belanda mendapat julukan Negara Kincir Angin.
Kesimpulan
Paparan di atas menggambarkan secara jelas bahwa kincir angin merupakan salah satu produk dari perkembangan teknologi akibat revolusi roda.[7] Kincir angin zaman kuno yang pertama kali dikembangkan di Persia merupakan cikal bakal dari perkembangan teknologi kincir angin modern. Sempat menuai perdebatan tentang bentuk kincir angin horizontal di dunia Islam dan kincir angin vertical di dunia Barat. Tapi menurut argumen kami, penemuan kincir angin di Eropa khususnya Belanda bukan bersifat independen melainkan merupakan hasil dari difusi teknologi dari Asia Minor (Persia). Terkait dengan bentuknya yang berbeda kami berpendapat bahwa kincir angin yang ada di Eropa telah berinovasi dan konstruksinya pun disempurnakan. Arah sumbunya misalnya dapat disesuaikan oleh angin. Begitu pula sayapnya dapat diatur sesuai dengan derasnya angin itu dikarenakan perkembangan teknologi dan arsitektur. Sejarawan Joseph Needham pun menuliskan “sejarah kincir angin benar-benar diawali oleh kebudayaan Islam” (Joseph Needham, 1986. Science and Civilization in China: Volume 4, Physics and Physical Technology, Part 2, Mechanical Engineering. Taipei: Caves Books Ltd. Vol 4). Mengingat rentan waktu dimana kincir angin pertama di Eropa muncul di abad ke-12 dan abad ke-13 Belanda pertama kali menggunakannya. Joseph Needham berpikir bahwa “ hal ini jelas penyebaran kearah barat dari Iberia yang dulunya berasal dari Spanyol muslim”. Hal ini mengacu pada teori difusi inovasi yang dipopulerkan oleh Everett Rogers tentang bagaimana sebuah ide dan teknologi baru tersebar dalam sebuah kebudayaan[8]. Kami berpendapat bahwa dari Iran dan Afganistan kincir angin ini lambat tersebar secara luas di seluruh Timur Tengah dan Asia Tengah , dan kemudian menyebar ke China dan India. Kemudian di masa Perang Salib kincir angin menjalar ke Eropa.
Jadi kincir angin sebenarnya bukan di pelopori oleh Belanda secara independen. Seperti di Timur, kincir angin di Belanda juga hadir karena determisme social. Keadaan alam kedua wilayah tersebut membuat mereka mencari solusi untuk kebutuhan rill dan tekanan social dimasyaraktnya. Kincir angin sangat cocok untuk menjalankan pompa untuk mengeringkan lahan. Perannnya sangat penting di belanda, dari segi ekonomi, sumber energi angin mampu mengurangi penggunaan bahan bakar minyak, menciptakan lapangan pekerjaan baru di bidang pembuatan dan pemeliharaan kincir angi maupun distribusinya,kincir angin juga berperan dalam bidang objek wisata. Dari sisi lingkungan hidup, energi angin tidak menghasilkan polusi, tak memerlukan bahan bakar, tak menimbulkan efek rumah kaca, tak menghasilkan zat berbahaya dan sampah radioaktif. Belanda  yang dikenal juga dengan negeri seribu tanggul karena daerahnya  berada di bawah permukaan air laut pasang, daerah ini dapat ditempati dengan berkat adanya tanggul dan pompa dengan memanfaatkan kincir angin untuk mengeringkan lahan. Maka kincir angin menjadi kebutuhan yang luar biasa penting diperlukan. Tidak salah kalau Belanda mendapat julukan Negara Kincir Angin.

Berang Berang

Berang-berang bukanlah "Si Pembuat Bendungan"

Mungkin banyak dari kita sangat mengenal berang-berang sebagai “si Pembuat Bendungan”. Informasi ini didapatkan dari berbagai sumber, baik cerita, film kartun, film dokumenter, film dan artikel Harun Yahya dan dari sumber lainnya. Informasi ini menyesatkan, karena berang-berang tidak memiliki kebiasaan membuat bendungan. Hewan cerdik yang mampu membuat bendungan dari tumpukan batang kayu tersebut adalah “beaver”. Apa bahasa Indonesianya? “Ya, tidak ada!”. Karena beaver ini hanya terdapat di Amerika bagian Utara. Sedangkan yang disebut berang-berang dalam bahasa Inggrisnya adalah “otter”. Inilah yang ada di Indonesia. Berikut akan dijelaskan sedikit tentang berang-berang (otter) yang sebenarnya.

ottervsbeaver
Gambar 1. kiri: berang-berang Eurasia (Lutra lutra); kanan: beaver (Castor canadensis); insert kanan atas: foto gigi beaver yang mencirikan bangsa pengerat (ordo Rodentia).
otter holt and beaver dam
Gambar 2. kiri: sarang berang-berang di lubang-lubang batu di tepi sungai; kanan: bendungan beaver yang dibuat dari batang kayu yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk bendungan yang kokoh.
Berang-berang merupakan hewan yang tergolong ke dalam bangsa hewan pemakan daging (ordo Carnivora), famili Mustelidae, subfamili Lutrinae. Berang-berang ada 13 jenis tersebar di seluruh dunia kecuali Australia. Di Indonesia ada empat jenis berang-berang yaitu Aonyx cinereus, Lutra lutra, L. sumatrana dan Lutrogale perspicillata. Dua dari empat jenis tersebut, L. lutra dan L. sumatrana termasuk ke dalam hewan yang dilindungi oleh Peraturan Pemerintah no 7 tahun 1999. Sedangkan beaver merupakan bangsa pengerat (Ordo Rodentia) (Gambar 1), termasuk famili Castoridae yang terdiri dari dua jenis Castor canadensis dan C. fiber. Keduanya hanya terdapat di Amerika bagian Utara.
Berang-berang dapat ditemukan pada berbagai tipe habitat lahan basah, habitat air tawar, payau dan air laut, sungai dataran rendah dan tinggi, danau, rawa, persawahan dan pesisir pantai. Keberadaannya lebih dipengaruhi oleh tersedianya makanan yang cukup, air tawar dan vegetasi di sekitarnya untuk beristirahat, membersihkan badan dan menelisik (grooming) dan membuat sarang. Dari segi makanannya, berang-berang termasuk ke dalam kelompok piscivora, artinya hewan yang makanan dominannya adalah ikan. Selain ikan, mereka juga suka kepiting, katak, ular, serangga, dan beberapa mamalia kecil dan burung.
Berbeda dengan beaver yang membuat sarang dan bendungannya sendiri, berang-berang menempati sarang pada lubang-lubang batu (Gambar 2), liang tanah, di antara akar-akar kayu dan tempat yang sesuai lainnya yang telah terbentuk dengan alaminya. Namun, sarang ini hanya ditempati secara menetap ketika sedang memelihara anak, jika tidak mereka akan menggunakan sarang ini hanya sebagai tempat singgah sementara ketika berkeliling mencari makan mengitari wilayah kekuasaannya (home range). Hewan ini memiliki wilayah home range yang bisa mencapai panjang 18Km, bahkan untuk jantan Lutra lutra wilayah kekuasaannya bisa mencapai sungai sepanjang 38Km.
Karena kebiasaannya yang makan ikan, hewan yang biasa nokturnal ini dianggap sebagai musuh oleh petani budidaya ikan. Berang-berang biasanya akan terbunuh jika terjadi perjumpaan dengan manusia, namun di beberapa daerah menerapkan kearifan lokal dalam mengatasi serangan berang-berang ini. Selain itu, berang-berang juga terancam dalam hal perusakan habitat. Sekarang ini sangat sulit mencari sungai yang masih memiliki sumber ikan yang banyak, dan memiliki vegetasi yang masih baik di tepi sungainya. Beberapa bentuk kegiatan yang mengancam sungai secara umum adalah penambangan pasir, penambangan emas, pembukaan lahan di bagian hulu sungai, dan limbah yang dialirkan ke sungai baik limbah domestik (rumah tangga) maupun limbah industri. Tidak hanya sungai, rawa yang merupakan salah satu rumah bagi kenekaragaman hayati juga terancam. Pembukaan kebun sawit besar-besaran mengancam daerah rawa di beberapa daerah di Sumatera Barat.
Sangat disayangkan sekali, hewan yang bisa disebut sebagai “harimaunya” lahan basah ini kurang mendapat perhatian, baik oleh peneliti maupun oleh pengambil kebijakan. Padahal fungsi ekologisnya yang sangat besar karena merupakan top carnivore dan berada di puncak piramida makanan di habitat lahan basah. Perubahan lingkungan akan sangat mempengaruhi hewan yang bisa dijadikan indikator lingkungan perairan yang masih sehat ini. Masih banyak fungsi ekologisnya yang belum diketahui dari jenis ini, banyak hal yang butuh penelitian lebih lanjut, misalnya apakah hewan ini memiliki peranan dalam menjaga agar populasi ikan tetap sehat, apakah berang-berang berfungsi sebagai pengontrol hama tikus dan keong mas di area persawahan. Semua itu butuh perhatian dan penelitian yang lebih untuk mengungkapkannya.

Sumber : https://aadrean.wordpress.com/2009/12/09/berang-berang-bukanlah-sipembuat-bendungan/