Legenda Telaga Biru
Jaman dahulu ada sebuah kerajaan di Jawa Barat bernama
Kutatanggeuhan. Kutatanggeuhan merupakan kerajaan yang makmur dan damai.
Rakyatnya hidup tenang dan sejahtera karena dipimpin oleh raja yang
bijaksana. Raja Kutatanggeuhan bernama Prabu Suwartalaya dan
permaisurinya bernama Ratu Purbamanah. Sayang Prabu dan Ratu belum
dikaruniai keturunan sehingga mereka selalu merasa kesepian. Rakyat pun
sangat mengkhawatirkan keadaan ini, karena siapa yang akan menggantikan
Prabu dan Ratu kelak?
Akhirnya Raja memutuskan untuk bersemedi. Dia pergi ke gunung dan
menemukan sebuah gua. Disanalah dia bersemedi, berdoa kepada Tuhan
supaya dikaruniai keturunan. Setelah berhari-hari Prabu Suwartalaya
berdoa, suatu hari tiba-tiba terdengar suara gaib.
“Benarkah kau menginginkan keturunan Prabu Suwartalaya?” kata suara gaib tersebut.
“Ya! Saya ingin sekali memiliki anak!” jawab Prabu Suwartalaya.
“Baiklah! Doamu akan terkabul. Sekarang pulanglah!” kata suara gaib.
Maka Prabu Suwartalaya pun pulang dengan gembira. Benar saja beberapa
minggu kemudian, Ratu pun mengandung. Semua bersuka cita. Terlebih lagi
ketika sembilan bulan kemudian Ratu melahirkan seorang putri yang
cantik. Dia diberi nama Putri Gilang Rukmini. Prabu Suwartalaya
mengadakan pesta yang meriah untuk merayakan kelahiran putri mereka.
Putri Gilang Rukmini pun menjadi putri kesayangan rakyat Kutatanggeuhan.
Beberapa tahun telah berlalu, putri Gilang Rukmini tumbuh menjadi
gadis yang cantik jelita. Sayang putri Gilang Rukmini sangat manja dan
berperangai tidak baik, mungkin karena Prabu dan Ratu sangat
memanjakannya. Maklumlah anak semata wayang. Apapun yang diminta oleh
putri pasti segera dituruti. Jika tidak putri akan sangat marah dan
bertindak kasar. Namun rakyat tetap mencintainya. Mereka berharap suatu
hari perangai putri akan berubah dengan sendirinya.
Seminggu lagi putri Gilang Rukmini akan berusia tujuh belas tahun.
Prabu Suwartalaya akan mengadakan pesta syukuran di istana. Semua rakyat
boleh datang dan memberikan doa untuk putri Gilang Rukmini. Rakyat
berkumpul dan merencanakan hadiah istimewa untuk putri kesayangan
mereka. Akhirnya disepakati bahwa mereka akan menghadiahkan sebuah
kalung yang sangat indah. Kalung itu terbuat dari emas terbaik dan
ditaburi batu-batu permata yang beraneka warna. Maka rakyat dengan
sukarela menyisihkan uang mereka dan mengumpulkannya untuk biaya
pembuatan hadiah tersebut. Mereka memanggil pandai emas terbaik di
kerajaan untuk membuatnya.
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Rakyat berduyun-duyun
datang ke halaman istana tempat pesta ulang tahun putri Gilang Rukmini
diadakan. Di depan istana sudah berdiri sebuah panggung yang megah.
Rakyat bersorak-sorai saat Prabu dan Ratu menaiki panggung. Apalagi
ketika akhirnya putri Gilang Rukmini keluar dari istana dan melambaikan
tangannya. Rakyat sangat gembira melihat putri yang cantik jelita. Pesta
pun berlangsung dengan meriah.
Kini tiba saatnya rakyat mempersembahkan hadiah istimewa mereka.
Mereka memberikan kotak berisi hadiah itu kepada putri Gilang Rukmini.
Prabu Suwartalaya membuka kotak tersebut dan mengeluarkan kalung
beraneka warna yang sangat indah dan memberikannya kepada putri Gilang
Rukmini. putri Gilang Rukmini memandang kalung itu dengan kening
berkerut. Prabu Suwartalaya memandang putrinya, “Ayo nak, kenakan kalung
itu! Itu adalah tanda cinta rakyat kepadamu. Jangan kecewakan mereka
nak!”
“Iya putriku. Kalung itu sangat indah bukan. Ayo kenakan! Biar rakyat senang,” kata Ratu Purbamanah.
“Bagus apanya? Kalung ini jelek sekali. Warnanya norak, kampungan! Aku tidak mau memakainya!” teriak putri Gilang Rukmini.
Dia membanting kalung itu ke lantai hingga hancur. Prabu Suwartalaya,
Ratu Purbamanah dan rakyat Kutatanggeuhan hanya bisa tertegun
menyaksikan kejadian itu. Lalu tangis Ratu Purbamanah pecah. Dia sangat
sedih melihat kelakuan putrinya. Akhirnya semua pun meneteskan air mata,
hingga istana pun basah oleh air mata mereka. Mereka terus menangis
hingga air mata mereka membanjiri istana, dan tiba-tiba saja dari dalam
tanah pun keluar air yang deras, makin lama makin banyak. Hingga
akhirnya kerajaan Kutatanggeuhan tenggelam dan terciptalah sebuah danau
yang sangat indah.
Kini danau itu masih bisa kita temui di daerah Puncak, Jawa Barat.
Danau itu dinamakan Telaga Warna, karena jika hari cerah, airnya akan
memantulkan cahaya matahari hingga tampak berwarna-warni. Katanya, itu
adalah pantulan warna yang berasal dari kalung putri Gilang Rukmini.
Jumat, 20 Januari 2017
The Story of Tea
The Story of Tea
Did you know that tea is one of the popular drinks today? There are many kinds of tastes and colors. THe drinking of tea plays differenr roles in cultures around the world. In some countries it has become an important social activity, while in others it has become a tradition. Let's go and explore the world of tea!!
The Beginnings
The legend of tea began about 4700 years ago in China. Emperor Shen Nong was traveling to a distant area of China. While he was waiting for his water to boil, a leaft from a wild tea bush fell into it. The leaft turned the water brown, but the Emperor still drank it. It tasted good and the idea of drinking tea began.
Tea on the Move
China was the first major producer of tea. In the eight century, monks took seeds of the tea plant to Japan. There the growing and drinking of tea became popular. In the sixteenth century, traders and missionaries who had traveled to Asia took tea back to Europe. Holland was the first European country to develop a taste foe tea. Next, people in France and Germany began to drink it. However, in the seventeenth century tea became very popularwhen it reached England. At first tea was a drink for the rich, but as it became cheaper it was enjoyed by all.
A Tradition of Tea
Traditions also developed with the drinking of tea. In England, a lady of nobility started the tradition of "Afternoon Tea". In those days dinner was eaten late. The drinking of tea some food stopped her from feeling hungry. Soon she started inviting other ladies to join her in the afternoon. Meeting with friends has become an important part of "Afternoon Tea".
Growing Tea
As tea became popular around the world, more countries began to grow it. Major tea producing areas are China, India and Sri Lanka. The most common varieties of tea are black, green and oolong. They all come from the same tea plant, but are processed differently.
How is Tea Drink?
Tea is usually drink hot. Black tea can be served plain, but sometimes milk, sugaror lemon are added to it. In some countries, such as India, spices are used to make masala tea. In Tibet, butter, milk, salt and sugar are used to make traditional tea. People in Russia like their tea sweet and use jam or honey. Green tea and oolong tree are traditionally drunk without adding anything. They can also be drunk cold. How do people in your country drink tea?Iced tea has become a popular drink in man countries. especially during the hot summer months. It is said that iced tea was developed by accident. At the 1904 World's Far in St.Louis, USA, a trader was preparing hot tea samples. There was little interest in his tea, because the weather was so hot. Without thinking, he put ice into his hot tea, and so the idea of iced tea was born.
The Future of Tea
With each new generation of tea drinkers, and as more people travel the world, new combinations of tea drinks are being made. Herbal teas have also become popular. Sometimes they are mixed with fruit and spices. Research today has also shown that some types of tea, like green tea, are very good for you!
Sejarah Cokelat
Sejarah Cokelat
Residu cokelat yang ditemukan pada tembikar yang digunakan oleh suku Maya kuno di Río Azul, Guatemala Utara, menunjukkan bahwa Suku Maya meminum cokelat di sekitar tahun 400 SM. Peradaban pertama yang mendiami daerah Meso-Amerika itu mengenal pohon “kakawa” yang buahnya dikonsumsi sebagai minuman xocolātl yang berarti minuman pahit. Menurut mereka, minuman ini perlu dikonsumsi setiap hari, entah untuk alasan apa. Namun, tampaknya cokelat juga menjadi simbol kemakmuran.
Cara menyajikannya pun tak sembarangan. Dengan memegang wadah cairan ini setinggi dada dan menuangkan ke wadah lain di tanah, penyaji yang ahli dapat membuat busa tebal, bagian yang membuat minuman itu begitu bernilai. Busa ini sebenarnya dihasilkan oleh lemak kokoa (cocoa butter) namun kadang-kadang ditambahkan juga busa tambahan. Orang Meso-Amerika tampaknya memiliki kebiasaan penting minum dan makan bubur yang mengandung cokelat.
Biji dari pohon kakao ini sendiri sangat pahit dan harus difermentasi agar rasanya dapat diperoleh. Setelah dipanggang dan dibubukkan hasilnya adalah cokelat atau kokoa. Diperkirakan kebiasaan minum cokelat suku Maya dimulai sekitar tahun 450 SM - 500 SM. Konon, konsumsi cokelat dianggap sebagai simbol status penting pada masa itu. Suku Maya mengonsumsi cokelat dalam bentuk cairan berbuih ditaburi lada merah, vanila, atau rempah-rempah lain. Minuman Xocoatl juga dipercaya sebagai pencegah lelah, sebuah kepercayaan yang mungkin disebabkan dari kandungan theobromin di dalamnya.
Ketika peradaban Maya klasik runtuh (sekitar tahun 900) dan digantikan oleh bangsa Toltec, biji kokoa menjadi komoditas utama Meso-Amerika. Pada masa Kerajaan Aztec berkuasa (sampai sekitar tahun 1500 SM) daerah yang meliputi Kota Meksiko saat ini dikenal sebagai daerah Meso-Amerika yang paling kaya akan biji kokoa. Bagi suku Aztec biji kokoa merupakan “makanan para dewa” (theobroma, dari bahasa Yunani). Biasanya biji kokoa digunakan dalam upacara-upacara keagamaan dan sebagai hadiah.
Cokelat juga menjadi barang mewah pada masa Kolombia-Meso Amerika, dalam kebudayaan mereka yaitu suku Maya, Toltec, dan Aztec biji kakao (cacao bean) sering digunakan sebagai mata uang [3]. Sebagai contoh suku Indian Aztec menggunakan sistem perhitungan dimana satu ayam turki seharga seratus biji kokoa dan satu buah avokad seharga tiga biji kokoa [4]
Sementara tahun 1544 M, delegasi Maya Kekchi dari Guatemala yang mengunjungi istana Spanyol membawa hadiah, di antaranya minuman cokelat.
Cokelat cair.
Pada tahun 1689 seorang dokter dan kolektor bernama Hans Sloane, mengembangkan sejenis minuman susu cokelat di Jamaika dan awalnya diminum oleh suku apothekari, namun minuman ini kemudian dijual oleh Cadbury bersaudara [6].
Semua cokelat Eropa awalnya dikonsumsi sebagai minuman. Baru pada 1847 ditemukan cokelat padat. Orang Eropa membuang hampir semua rempah-rempah yang ditambahkan oleh orang Meso-Amerika, tetapi sering mempertahankan vanila. Juga mengganti banyak bumbu sehingga sesuai dengan selera mereka sendiri mulai dari resep khusus yang memerlukan ambergris, zat warna keunguan berlilin yang diambil dari dalam usus ikan paus, hingga bahan lebih umum seperti kayu manis atau cengkeh. Namun, yang paling sering ditambahkan adalah gula. Sebaliknya, cokelat Meso-Amerika tampaknya tidak dibuat manis.
Cokelat Eropa awalnya diramu dengan cara yang sama dengan yang digunakan suku Maya dan Aztec. Bahkan sampai sekarang, cara Meso-Amerika kuno masih dipertahankan, tetapi di dalam mesin industri. Biji kokoa masih sedikit difermentasikan, dikeringkan, dipanggang, dan digiling. Namun, serangkaian teknik lebih rumit pun dimainkan. Bubuk cokelat diemulsikan dengan karbonasi kalium atau natrium agar lebih mudah bercampur dengan air (dutched, metode emulsifikasi yang ditemukan orang Belanda), lemaknya dikurangi dengan membuang banyak lemak kokoa (defatted), digiling sebagai cairan dalam gentong khusus (conched), atau dicampur dengan susu sehingga menjadi cokelat susu (milk chocolate).
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Cokelat
Rabu, 18 Januari 2017
The Golden Goose 1 (English)
The Golden Goose
There
was a man who had three sons. Most people consider his youngest son
very silly, and they often mock and make fun of him. One day the eldest
son was going to the forest to cut wood. Before he left, his mother
prepared delicious pancakes and a bottle of wine for his journey, so he
will not suffer from hunger or thirst.
When
the eldest son entered the forest, he met a gray old man. The old man
greeted him politely. "Good-morning,” said the old man. "Please give me
some food and something to drink, because I am very hungry and thirsty.”
The
clever son replied: "No. If I give you my cake and wine, I will not
have any for myself. So go away!" He left the man standing and went on.
The
eldest son began cutting down a tree. But then, somehow he made a false
stroke. His axe slipped and cut his arm so badly. He had no other
choice than to go home and have his injury taken care of.
The
following day, the second son also wanted to go into the forest to cut
wood. So his mother gave him a delicious cake and a bottle of wine. When
he entered the wood, he met the same old man. The old man begged for a
little piece of cake and some wine because he was hungry and thirsty.
The second son answered very rudely: "No. I want these for myself, so go
away!"
He
walked on, leaving the old man standing in the road. His punishment
came soon after that. Somehow he hit his leg with his axe, got terribly
injured, and went home in great pain.
The youngest son said to his father, "Let me go to the forest to cut wood."
But
his father replied: "No. Your smart brothers have been hurt already. It
would surely be worse for you, who have no experience in wood-cutting."
But
the youngest son begged so hard to his father to be allowed to go to
the forest. His father finally said : "Fine, go to the forest to cut
wood. But don't blame me if something bad happened to you."
Unlike what she prepared for his older brothers, the mother only prepared a badly made cake, and a bottle of water.
When
the youngest son reached the wood, the same old man met him. Just like
before, the old man said: "Please give me some food and water from your
bottle. I am very hungry and thirsty."
"Oh,"
replied the youngest son, "But I only have a badly made cake, which has
been baked in the ashes, and a bottle of water. But let's sit down, and
eat and drink together."
So
they seated themselves. When the young man opened his basket, he was
really surprised. The badly made cake had been turned into a beautiful
delicious cake. And the bottle of water turned into wine. After they had
eaten and drank, the old man said to him: "Thank you. Because you have
been very kind, and shared your dinner with me, I will make you very
lucky in the future. There is an old tree in the forest. Cut the tree
down, and you will find something good at the root." Then, the old man
left him.
The
young man set to work. After succeeded in felling the old tree, he
found a goose, sitting at the roots. It was not an ordinary goose. The
goose's feathers were of pure gold. He took the goose, and, instead of
going home immediately, he carried it with him to an inn nearby, where
he was going to pass the night.
The
owner of the inn had three daughters. They looked at the golden goose
enviously. They had never seen such a wonderful goose. They all wanted
to have at least one of its golden feathers.
"Ah,"
thought the eldest daughter, "Soon I will have an opportunity to pluck
one feather." After the young man left the room, the eldest daughter
quickly approached the bird and took hold of its wing to pluck one
feather. But then, her finger and thumb got stuck and she could not set
herself free. Minutes later the second sister came in. She also wanted
to get a golden feather. But when she touched her sister to move her
from the goose, her hand got stuck to her sister’s dress. Neither of
them could free herself. Minutes later, the third sister came with the
same intention, to pluck a golden feather. "No, keep away, keep away!"
screamed the other two. "Don't do it, and keep away!"
The
youngest daughter did not understand why she should keep away. So she
touched her second sister, and immediately got stuck. They could not
free themselves so they all had to remain by the goose all night.
In
the morning the young man came in, and took the golden goose. He simply
went away. He did not even care about the three girls, who were
following close behind him. And because the young man walked very
quickly, the three girls had to run one behind the other, because they
are magically stuck to the golden goose.
The Golden Goose 2 (English)
The Golden Goose
Most
people who saw the young man and the three girls thought that it was
inappropriate for the girls to run after a young man like that. But when
they tried to stop the three girls, four of them also got magically
stuck. When the young man finally arrived in a city, he got seven people
attached to his golden goose.
The city was ruled by a king who had a daughter who seemed to be sad all the time. No
one could make her laugh. That is why the king issued a decree that
whoever would make the princess laugh should have her in marriage.
When
the young man heard this, he ran in front of the princess, and the
whole seven attached to his golden goose followed after him. The sight
was so ridiculous that the moment the princess saw it she burst into a
violent fit of laughter and they thought she would never stop.
After
this, the young man went to the king. He demanded his daughter in
marriage. But the king did not quite like to have the young man for a
son-in-law. So the king said that, before he could marry his daughter,
the young man must bring him a man who could drink all the wine in the
king's storage.
The
young man quickly went into the forest. He thought, "If anyone can help
me, it is the gray old man with his magic." When he arrived at the
place where he had cut down the old tree, he met a man with a very sad
face.
The young man asked him why he looked so sad.
"Oh,"
he said, "I am very very thirsty and nothing seems able to quench it.
And I cannot simply drink cold water. I have already emptied a cask of
wine, but it was just like a drop of water on a hot stone."
"I can help you," said the young man. "Come with me, and you shall have your fill, I promise you."
Upon
this he led the man into the king’s wine storage, where he opened the
casks one after another, and drank and drank till his back ached. Before
the end of the day he had quite emptied the king’s wine storage.
Again
the young man asked for his bride. But the king did not like the
thought of giving his daughter to such a common fellow. To get rid of
the young man he made another condition. The king said that to marry his
daughter, first he must find someone that's able to eat up a whole
mountain of bread.
Just
like before, the young man went back to the forest. And there in the
same place sat a man binding himself round tightly with a belt, and
making the most horrible faces. As the young man approached, he cried,
"I have eaten a whole ovenfull of rolls, but it has not satisfied me a
bit; I am as hungry as ever, and my stomach feels so empty that I am
obliged to bind it round tightly, or I should die of hunger."
The
young man could hardly contain himself for joy when he heard this. "Get
up," he exclaimed, "and come with me, and I will give you plenty to
eat, I’ll warrant."
So
he led him to the king’s court, where his majesty had ordered all the
flour in the kingdom to be made into bread, and piled up in a huge
mountain. The hungry man placed himself before the bread, and began to
eat, and before evening the whole pile had disappeared.
Then
the young man went a third time to the king, and asked for his bride,
but the king made several excuses, and at last said that if he could
bring him a ship that would travel as well by land as by water, then he
should, without any further conditions, marry his daughter.
The
young man went at once straight to the forest, and saw the same old
gray man to whom he had given his cake. "Ah," he said, as the young man
approached, "I was the one who sent the men to eat and drink, and I will
also give you a ship that can travel by land or by sea, because when
you thought I was poor you were kind-hearted, and gave me food and
drink."
The
young man took the ship, and when the king saw it he was really
surprised. But the king could not any longer refuse to give him his
daughter in marriage. The wedding was celebrated with great ceremony,
and after the king’s death the simple wood-cutter inherited the whole
kingdom, and lived happily with his wife.
Nrgeri Kincir Angin
Belanda Sang Negeri Kincir Angin
Belanda merupakan salah satu Negara yang berada Eropa Barat, selain
sebagai Negara kincir angin, Belanda juga mendapat julukan Negara bunga
tulip dan Negara seribu tanggul. Disebut negeri seribu tanggul karena di
Belanda banyak sekali tanggul raksasa yang berfungsi untuk membendung
air laut agar tidak mengalir ke daratan. Ibukota Belanda adalah
Amsterdam. Secara astronomis Belanda terletak antara 500 LU-530 LU dan
30 BT-70 BT. Dari luas wilayah Belanda 41.160 KM2 Gunung Falselburg
(321M) sebagai puncak tertinggi di negeri Belanda. Daerah tertinggi ada
diantara 20M- 100M diatas permukaan laut. Hal ini merujuk kepada nama
nama ’Nederland’ yang artinya letak tanah yang rendah (’neder’ =
rendah).
Daerah yang tingginya berada di bawah permukaan air laut pasang, daerah
ini dapat ditempati dengan berkat adanya tanggul dan pompa dengan
memanfaatkan kincir angin untuk mengeringkan lahan : air tanah itu di
pompa keluar lahan yang di namakan dengan polder. Adanya angin secara
teratur menjamin pompa itu dapat berfungsi secara teratur menjamin
pompa itu dapat berfungsi secara teratur pula[6]. Sejak berabad-abad
Belanda secara massive telah menggunakan kincir angin baik untuk
menggiling gandum maupun untuk memompa air demi mengeringkan negerinya
yang lebih rendah dari laut.
Walaupun semua kincir angin di Belanda hampir terlihat sama, sebenarnya
terdapat berbagai jenis dari kincir angin tersebut. Menurut fungsinya,
kincir angin dibagi menjadi dua jenis yaitu kincir angin untuk
kepentingan industri dan kincir angin untuk penyaluran air. Kincir angin
untuk kepentingan industri terdapat banyak jenisnya dan mereka diberi
nama sesuai dengan penggunaan mereka, contohnya kincir angin untuk
menggergaji (sawmill ) atau kincir angin untuk menggiling jagung
(cornmill). Jenis kincir angin yang paling tua adalah kincir angin
standar (standaardmolen atau postmill ). Kincir angin ini dapat
menangkap dan mengalihkan banyak angin dan terlebih lagi dengan kincir
air yang terpasang di dalamnya, dapat membantu proses pengalihan dan
pengeringan air lebih cepat. Oleh karena itu, kincir angin tipe ini
banyak ditemukan di pusat kota di Belanda, karena bermanfaat sekali
untuk proses pengalihan angin dan air. Masih banyak jenis-jenis lain
dari kincir angin, seperti contohnya kincir angin kecil (wipmolen) dan
menara kincir angin (torenmolen).
Selain digunakan untuk membantu proses irigasi, menggiling hasil panen,
dan kadang kincir angin juga digunakan sebagai sarana informasi: kalau
anggota keluarga si pemilik kincir angin meninggal, maka posisi kincir
menyimpang dari biasanya. Fungsi dari kincir angin pun sekarang
bertambah, antara lain untuk mengalihkan air dan angin, mengasah kayu,
memproduksi kertas, mengeluarkan minyak dari biji juga sebagai objek
wisata. Kinderdijk, dari 1000 yang berada di Belanda 19 ada ditempat
tersebut. Kincir angin tersebut tertata rapi sehingga menghasilkan
pemandangan menarik untuk pengunjungnya. Banyak lukisan dan fotografi di
buat di sini, karena lokasi ini sangatlah indah untuk dilihat terutama
pada saat matahari terbenam. Selain di Kinderdijk, kamu juga bisa datang
ke kincir angin yang dimiliki oleh perseorangan. Setiap hari Sabtu
pertama dalam setiap bulan atau setiap tanggal 13 Mei, yang merupakan
hari kincir angin, mereka akan membuka kincir angin mereka untuk umum.
Namun, rata-rata pemilik kincir angin ini membukannya setiap hari,
karena mereka bangga akan kincir angin mereka dan mereka biasanya
memberikan keterangan tentang cara kerja dari kincir angin tersebut.
Dari segi ekonomi, sumber energi angin mampu mengurangi penggunaan bahan
bakar minyak, menciptakan lapangan pekerjaan baru di bidang pembuatan
dan pemeliharaan kincir angi maupun distribusinya,kincir angin juga
berperan dalam bidang objek wisata. Dari sisi lingkungan hidup, energi
angin tidak menghasilkan polusi, tak memerlukan bahan bakar, tak
menimbulkan efek rumah kaca, tak menghasilkan zat berbahaya dan sampah
radioaktif. Tidak salah kalau Belanda mendapat julukan Negara Kincir
Angin.
Kesimpulan
Paparan di atas menggambarkan secara jelas bahwa kincir angin merupakan
salah satu produk dari perkembangan teknologi akibat revolusi roda.[7]
Kincir angin zaman kuno yang pertama kali dikembangkan di Persia
merupakan cikal bakal dari perkembangan teknologi kincir angin modern.
Sempat menuai perdebatan tentang bentuk kincir angin horizontal di dunia
Islam dan kincir angin vertical di dunia Barat. Tapi menurut argumen
kami, penemuan kincir angin di Eropa khususnya Belanda bukan bersifat
independen melainkan merupakan hasil dari difusi teknologi dari Asia
Minor (Persia). Terkait dengan bentuknya yang berbeda kami berpendapat
bahwa kincir angin yang ada di Eropa telah berinovasi dan konstruksinya
pun disempurnakan. Arah sumbunya misalnya dapat disesuaikan oleh angin.
Begitu pula sayapnya dapat diatur sesuai dengan derasnya angin itu
dikarenakan perkembangan teknologi dan arsitektur. Sejarawan Joseph
Needham pun menuliskan “sejarah kincir angin benar-benar diawali oleh
kebudayaan Islam” (Joseph Needham, 1986. Science and Civilization in
China: Volume 4, Physics and Physical Technology, Part 2, Mechanical
Engineering. Taipei: Caves Books Ltd. Vol 4). Mengingat rentan waktu
dimana kincir angin pertama di Eropa muncul di abad ke-12 dan abad ke-13
Belanda pertama kali menggunakannya. Joseph Needham berpikir bahwa “
hal ini jelas penyebaran kearah barat dari Iberia yang dulunya berasal
dari Spanyol muslim”. Hal ini mengacu pada teori difusi inovasi yang
dipopulerkan oleh Everett Rogers tentang bagaimana sebuah ide dan
teknologi baru tersebar dalam sebuah kebudayaan[8]. Kami berpendapat
bahwa dari Iran dan Afganistan kincir angin ini lambat tersebar secara
luas di seluruh Timur Tengah dan Asia Tengah , dan kemudian menyebar ke
China dan India. Kemudian di masa Perang Salib kincir angin menjalar ke
Eropa.
Jadi kincir angin sebenarnya bukan di pelopori oleh Belanda secara
independen. Seperti di Timur, kincir angin di Belanda juga hadir karena
determisme social. Keadaan alam kedua wilayah tersebut membuat mereka
mencari solusi untuk kebutuhan rill dan tekanan social dimasyaraktnya.
Kincir angin sangat cocok untuk menjalankan pompa untuk mengeringkan
lahan. Perannnya sangat penting di belanda, dari segi ekonomi, sumber
energi angin mampu mengurangi penggunaan bahan bakar minyak, menciptakan
lapangan pekerjaan baru di bidang pembuatan dan pemeliharaan kincir
angi maupun distribusinya,kincir angin juga berperan dalam bidang objek
wisata. Dari sisi lingkungan hidup, energi angin tidak menghasilkan
polusi, tak memerlukan bahan bakar, tak menimbulkan efek rumah kaca, tak
menghasilkan zat berbahaya dan sampah radioaktif. Belanda yang dikenal
juga dengan negeri seribu tanggul karena daerahnya berada di bawah
permukaan air laut pasang, daerah
ini dapat ditempati dengan berkat adanya tanggul dan pompa dengan
memanfaatkan kincir angin untuk mengeringkan lahan. Maka kincir angin
menjadi kebutuhan yang luar biasa penting diperlukan. Tidak salah kalau
Belanda mendapat julukan Negara Kincir Angin.
Berang Berang
Berang-berang bukanlah "Si Pembuat Bendungan"
Mungkin
banyak dari kita sangat mengenal berang-berang sebagai “si Pembuat
Bendungan”. Informasi ini didapatkan dari berbagai sumber, baik cerita,
film kartun, film dokumenter, film dan artikel Harun Yahya dan dari
sumber lainnya. Informasi ini menyesatkan, karena berang-berang tidak
memiliki kebiasaan membuat bendungan. Hewan cerdik yang mampu membuat
bendungan dari tumpukan batang kayu tersebut adalah “beaver”.
Apa bahasa Indonesianya? “Ya, tidak ada!”. Karena beaver ini hanya
terdapat di Amerika bagian Utara. Sedangkan yang disebut berang-berang
dalam bahasa Inggrisnya adalah “otter”. Inilah yang ada di Indonesia. Berikut akan dijelaskan sedikit tentang berang-berang (otter) yang sebenarnya.
Gambar 1. kiri: berang-berang Eurasia (Lutra lutra); kanan: beaver (Castor canadensis); insert kanan atas: foto gigi beaver yang mencirikan bangsa pengerat (ordo Rodentia).

Gambar 2. kiri: sarang berang-berang di lubang-lubang batu di tepi sungai; kanan: bendungan beaver yang dibuat dari batang kayu yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk bendungan yang kokoh.
Berang-berang merupakan hewan yang tergolong ke dalam bangsa hewan pemakan daging (ordo Carnivora), famili Mustelidae, subfamili Lutrinae. Berang-berang ada 13 jenis tersebar di seluruh dunia kecuali Australia. Di Indonesia ada empat jenis berang-berang yaitu Aonyx cinereus, Lutra lutra, L. sumatrana dan Lutrogale perspicillata. Dua dari empat jenis tersebut, L. lutra dan L. sumatrana termasuk ke dalam hewan yang dilindungi oleh Peraturan Pemerintah no 7 tahun 1999. Sedangkan beaver merupakan bangsa pengerat (Ordo Rodentia) (Gambar 1), termasuk famili Castoridae yang terdiri dari dua jenis Castor canadensis dan C. fiber. Keduanya hanya terdapat di Amerika bagian Utara.
Berang-berang dapat ditemukan pada berbagai tipe habitat lahan basah, habitat air tawar, payau dan air laut, sungai dataran rendah dan tinggi, danau, rawa, persawahan dan pesisir pantai. Keberadaannya lebih dipengaruhi oleh tersedianya makanan yang cukup, air tawar dan vegetasi di sekitarnya untuk beristirahat, membersihkan badan dan menelisik (grooming) dan membuat sarang. Dari segi makanannya, berang-berang termasuk ke dalam kelompok piscivora, artinya hewan yang makanan dominannya adalah ikan. Selain ikan, mereka juga suka kepiting, katak, ular, serangga, dan beberapa mamalia kecil dan burung.
Berbeda dengan beaver yang membuat sarang dan bendungannya sendiri, berang-berang menempati sarang pada lubang-lubang batu (Gambar 2), liang tanah, di antara akar-akar kayu dan tempat yang sesuai lainnya yang telah terbentuk dengan alaminya. Namun, sarang ini hanya ditempati secara menetap ketika sedang memelihara anak, jika tidak mereka akan menggunakan sarang ini hanya sebagai tempat singgah sementara ketika berkeliling mencari makan mengitari wilayah kekuasaannya (home range). Hewan ini memiliki wilayah home range yang bisa mencapai panjang 18Km, bahkan untuk jantan Lutra lutra wilayah kekuasaannya bisa mencapai sungai sepanjang 38Km.
Karena kebiasaannya yang makan ikan, hewan yang biasa nokturnal ini dianggap sebagai musuh oleh petani budidaya ikan. Berang-berang biasanya akan terbunuh jika terjadi perjumpaan dengan manusia, namun di beberapa daerah menerapkan kearifan lokal dalam mengatasi serangan berang-berang ini. Selain itu, berang-berang juga terancam dalam hal perusakan habitat. Sekarang ini sangat sulit mencari sungai yang masih memiliki sumber ikan yang banyak, dan memiliki vegetasi yang masih baik di tepi sungainya. Beberapa bentuk kegiatan yang mengancam sungai secara umum adalah penambangan pasir, penambangan emas, pembukaan lahan di bagian hulu sungai, dan limbah yang dialirkan ke sungai baik limbah domestik (rumah tangga) maupun limbah industri. Tidak hanya sungai, rawa yang merupakan salah satu rumah bagi kenekaragaman hayati juga terancam. Pembukaan kebun sawit besar-besaran mengancam daerah rawa di beberapa daerah di Sumatera Barat.
Sangat disayangkan sekali, hewan yang bisa disebut sebagai “harimaunya” lahan basah ini kurang mendapat perhatian, baik oleh peneliti maupun oleh pengambil kebijakan. Padahal fungsi ekologisnya yang sangat besar karena merupakan top carnivore dan berada di puncak piramida makanan di habitat lahan basah. Perubahan lingkungan akan sangat mempengaruhi hewan yang bisa dijadikan indikator lingkungan perairan yang masih sehat ini. Masih banyak fungsi ekologisnya yang belum diketahui dari jenis ini, banyak hal yang butuh penelitian lebih lanjut, misalnya apakah hewan ini memiliki peranan dalam menjaga agar populasi ikan tetap sehat, apakah berang-berang berfungsi sebagai pengontrol hama tikus dan keong mas di area persawahan. Semua itu butuh perhatian dan penelitian yang lebih untuk mengungkapkannya.
Sumber : https://aadrean.wordpress.com/2009/12/09/berang-berang-bukanlah-sipembuat-bendungan/
Langganan:
Postingan (Atom)