Selasa, 21 Februari 2017

Prajurit timah berkaki satu


Prajurit Timah Berkaki Satu

mr soldier

Suatu ketika, ada sepasukan laskar timah. Pasukan itu terdiri dari dua puluh lima prajurit. Semuanya serba sama. Seperti adik kakak saja. Mereka memang dituangkan ke dalam cetakan yang sama.
Seragamnya indah berwarna biru laut. Selempangnya merah cerah. Senapannya memakai bayonet, tersandang di pundak. Sikapnya tegap-tegap. Pandangannya selalu lurus ke depan. Bahkan di dalam dus nya pun mereka bersikap gagah. Selalu rapi berbaris bersiap siaga. Ketika dus tempat mereka dibuka, perkataan yang pertama mereka dengar adalah “laskar timah”. Mulai saat itu mereka baru tahu, bahwa mereka adalah laskar timah.
Si Buyung menerima laskar itu sebagai hadiah ulang tahun. Ia segera membuka dus itu. Isinya segera dibariskan di atas meja. Mereka benar-benar serupa. Tak dapat dibedakan yang satu dengan lainnya. Hanya satu yang agak berbeda. Kakinya hanya sebuah. Ketika ia masuk cetakan, timahnya habis. Tidak cukup untuk kaki yang sebelah. Karena kakinya hanya satu, ia lalu dinamakan si Timpang. Tetapi ia sama tegapnya dengan anggota pasukan yang lain. Ia pun selalu berdiri tegap. Sebagai layaknya seorang prajurit yang baik. Si Timpang inilah yang memegang peranan dalam ceritera ini.
Si Buyung membariskan pasukan itu di antara mainan-mainan barunya. Semuanya hadiah ulang tahunnya. Tetapi yang paling disayang, ialah sebuah istana terbuat dari karton.
Pada halaman di sekitar istana itu ada beberapa pohon. Di sela-sela pohon ada sebuah telaga, terbuat dari sebuah cermin. Pada cermin atau telaga itu berenanglah beberapa burung undan dari lilin. Lewat jendela-jendelanya, dapat dilihat ruangan-ruangannya yang indah. Bahkan jika kepala kita cukup dekat, suara angin pun dapat terdengar. Gemerisik di antara daun-daunan pohon kertas.
Pintu gerbangnya terbuka. Di dekatnya berdiri boneka kecil mungil dari kertas. Kedua tangannya terentang t inggi di atas kepala. Sebelah kakinya menjulur lurus ke belakang. Memang boneka itu sedang menari. Melihat hal itu, si Timpang berbesar hati. Ia mengira, bahwa penari itu juga hanya mempunyai sebelah kaki.
“Ia juga hanya mempunyai sebuah kaki”, pikirnya.
“Tentunya ia cocok untuk menjadi istriku. Tetapi ia tentu orang terkemuka! Ia tinggal di istana. Sedangkan aku, tinggal berdesakan di dalam sebuah dus. Hal ini kurang sesuai. Tetapi aku harus belajar kenal kepadanya”.
Ia lalu merebahkan diri di atas meja. Dengan demikian ia akan lebih puas melihat penari pujaannya. Lagi pula berdiri pada sebelah kaki juga melelahkan. Ia tergeletak di dekat sebuah kotak tembakau. Tak puas-puasnya ia memandangi wajah si penari. Penari itu sendiri, tidak capai-capainya menari. Sepanjang hari ia mengangkat sebuah kakinya. Kedua tangannya merentang tinggi di atas kepala.
Ketika malam tiba, si Buyung pergi tidur. Ketika hendak tidur, dimasuk-masukkan dahulu semua permainannya. Begitu pula psukan laskar timahnya. Hanya si Timpang yang tertinggal. Ia tetap tergeletak. Tersembunyi di belakang kotak tembakau. Semua orang telah tidur.
Kini waktunya semua permainan itu main sendiri. Mereka bermain dan bernyanyi. Jika orang mau memperhatikan benar-benar, tentu akan mendengarnya.
Pasukan laskar timah, bergelatak geletuk di dalam dusnya. Tetapi mereka tak dapat membuka dusnya. Si anak batu tulis berderit-derit, menari-nari di atas batu tulis. Burung kenari tersentak mendengarnya. Ia lalu ikut bernyanyi dan bersajak.
Hanya si Timpang yang tidak. Ia tetap tergeletak di tempatnya. Tak jemu-jemunya matanya menatap wajah si penari. Penari itu tetap berdiri pada sebuah kaki. Ia tetap menari.
Jam tembok berdentang dua belas kali. Tiba-tiba tutup kotak tembakau mental terbuka. Apa yang terjadi? Kotak itu sama sekali tak berisi tembakau!
Di dalam kotak itu ternyata tinggal si iblis kerdil. Ia melompat ke luar dari kotak.
“He, Timpang”, kata iblis itu.
“Jangan melihat saya yang bukan urusanmu!”
Tetapi si Timpang pura-pura tak mendengarnya.
Iblis kerdil menjadi marah sekali.
Ia berkata, “Kurang ajar! Tunggu saja besok. Lihat, apa yang akan terjadi!’
Pagi hari si Buyung bangun dari tidurnya. Dilihatnya si Timpang menggeletak, lalu diambilnya. Setelah diamati sebentar, lalu ditaruhnya di tepi jendela.
Entah karena angin, entah karena kutukan iblis, tiba-tiba saja jendela terbuka. Tanpa ampun lagi, si Timpang jatuh ke bawah. Ia jatuh dengan kepala di bawah dari tingkat tiga.
Bukan main pusingnya kepala si Timpang. Dihentak-hentakkannya kakinya di udara. Ia jatuh dengan bayonet tertancap di sela batu. Kepalanya tetap ke bawah!
Si Buyung berlari-lari ke bawah. Diikuti pengasuhnya. Ke sana ke mari mereka mencarinya. Sia-sia saja. Si Timpang tak ditemuinya. Jika boleh, tentu si Timpang akan berteriak.
Ia akan berteriak, “Sini! Aku ada di sini!”.
Tetapi itu tidak sopan! Seorang prajurit tidak boleh berteriak-teriak! Apalagi ia sedang berseragam!
Tak lama kemudian, hujan pun turun pula. Lebat benar! Si Buyung dan pengasuhnya bergegas kembali. Mereka berlari-lari masuk ke dalam rumah. Si Timpang tetap menancap di sela-sela batu.
Ketika hujan telah reda, datanglah dua orang anak.
“Lihat”, kata yang seorang.
“Ada sebuah boneka timah”.
“Bagus”, kata yang seorang lagi.
“Kita buatkan saja sebuah perahu kertas. Biar ia berlayar di dalamnya”.
Mereka membuat sebuah perahu dari kertas. Si Timpang diletakkan di dalamnya. Kemudian dihanyutkan ke dalam selokan. Kedua anak itu mengikuti sambil bertepuk-tepuk.
Air mengalir sangat derasnya. Ombak pun besar. Memang lebat benar hujan tadi. Perahu kertas itu bergoyang dan berputar.
Si Timpang gemetar ketakutan. Tetapi ia tetap bersikap gagah. Bagaimana pun takutnya, sebenarnya.
Ia berpikir, “Tak pantas seorang prajurit takut”.
Bagaimanan pun olengnya perahu itu, senapannya tetap ada di pundaknya!
Tiba-tiba perahu itu masuk ke dalam gorong-gorong. Segalanya menjadi gelap pekat. Seperti di dalam dusnya!
“Sampai di mana aku ini?” pikir si Timpang.
“Semua ini tentu ulah si iblis kerdil! Ah, jika aku masih dapat melihat si penari saja. Biarlah menjadi dua kali lebih gelap!”
Sekonyong-konyong menghadang seekor tikus air. Ia memang tinggal di dalam selokan itu.
“Stop!”, katanya.
“Mana kartu penduduk! Perlihatkan dulu kartu pendudukmu!”
Tetapi si Timpang diam saja. Senapannya dipegang erat-erat. Sebenarnya ia memang tak punya kartu penduduk. Perahu itu melaju terus. Si tikus berenang mengejarnya.
Dengan geramnya ia berteriak, “Tahan dia! Tahan dia! Ia belum membayar uang jalan! Ia juga tak mau menunjukkan kartu penduduk!”
Perahu melaju makin kencang. Tikus itu tak dapat mengerjarnya. Jauh di depan mulai tampak terang. Tetapi bersama dengan itu, terdengar pula suara menderu.
Orang tua pun akan ngeri mendengarnya! Air selokan itu menuju ke sebuah sungai. Bagi si Timpang, hal ini berbahaya sekali. Sama saja, seperti kita menghadapi jeram yang tinggi!
Sungai itu makin dekat. Laju perahu tak dapat di tahan lagi. Si Timpang tetap berdiri tegak. Disembunyikannya rasa takutnya. Dua kali perahu itu terguling berputar-putar. Air yang masuk bertambah banyak. Kertasnya makin menjadi lunak. Sebuah ombak menyiram kepala.
Si Timpang teringat akan si penari. Ia menjadi putus asa. Tak mungkin ia dapat melihatnya kembali. Di dalam telinganya terdengar lagu yang menyedihkan.
Jangan sangka bahwa ia tak dapat mendengar. Boneka atau patung dapat mendengar. Tentu saja dengan cara mereka sendiri!
Perahu itu telah menjadi hancur. Pecah tercerai berai. Si Timpang jatuh ke luar. Ia terjatuh ke dalam air yang melimpah berputar-putar. Tiba-tiba ia masuk ke dalam mulut ikan besar.
Bukan main gelapnya! Lebih gelap daripada waktu di dalam gorong-gorong. Sempitnya juga bukan main, lebih sempit daripada di dalam dus. Tetapi ia tetap bersikap seperti prajurit sejati. Senapannya pun tetap di pundak.
Ikan itu berenang kian ke mari. Kemudian ia meronta-ronta hebat. Tidak lama kemudian tenang kembali. Si Timpang dengan sabar tetap berjaga. Ia tetap bersiap siaga.
Tiba-tiba saja menjadi terang sekali. Bukan main silau mata si Timpang. Sinar matahari menerangi isi perut ikan itu, kemudian terdengar suara teriakan kaget, “He! Si Timpang!”
Ternyata ikan itu telah tertangkap. Ia lalu dijual ke pasar. Pembantu rumah tangga telah membelinya. Setelah ikan itu dipotong dan dibersihkan, isi perutnya tampaklah si Timpang di dalamnya.
“Haa! Si Buyung harus segera diberitahu!” pikir pembantu itu.
Ia lari masuk ke dalam kamar Buyung. Si Timpang diletakkan di atas meja.
Kembali si Timpang berdiri tegak di atas meja. Di dalam kamar yang dulu juga. Istana karton masih tetap di tempatnya. Si penari masih setia menari di tempat semula. Kedua tangannya tetap ke atas, berdiri pada sebuah kaki.
Si Timpang menjadi sangat terharu. Ia ingin sekali menangis. Ia ingin mencucurkan air mata dari timah! Tetapi itu tidak sopan! Seorang prajurit sama sekali tidak boleh menangis!
Mereka saling berpandangan. Si Timpang dan si penari. Tetapi mereka tetap membisu tak bercakap.
Tiba-tiba saja si Buyung menangkap si Timpang. Begitu saja, tanpa alasan. Kemudian dilemparkannya ke dalam perapian. Tanpa alasan sama sekali! Seperti biasa terjadi pada anak kecil lainnya. Tetapi mungkin juga karena kutukan si iblis kerdil. Tak seorang pun akan tahu.
Itulah si Timpang. Ia berdiri tegak di dalam api. Tubuhnya mengkilat cemerlang terkena cahaya api. Sudah tentu ia merasa panas! Tetapi ia teap tegak dalam sikap. Warna seragamnya mulai luntur.
Apakah itu karena lusuh selama perjalanan atau luntur karena kesedihan, tak seorang pun dapat mengatakan.
Si Timpang dan penari tetap saling berpandangan. Si Timpang merasa sedih sekali. Tubuhnya mulai meleleh karena sedihnya. Tetapi senapannya tetap tak diturunkan! Tetap ada di pundaknya.
Tiba-tiba pintu terbuka. Angin yang jahat meniup masuk. Si penari terbang tertiup. Akhirnya terhempas jatuh ke dalam perapian! Dengan segera penari itu meliuk-liuk. Tubuhnya hangus dimakan api. Bersama dengan itu, si Timpang meleleh hancur. Ia menetes ke dasar perapian.
Pagi harinya, perapian itu dibersihkan. Di dasar, di antar abu, terdapat segumpal timah. Tetapi dari tubuh si penari, tak ada bekasnya sama sekali.

Senin, 06 Februari 2017

Bahagia Dalam Sedih

Bahagia Dalam Sedih
Kate Chopin

220px-Kate-Chopin-The-Story-An-Hour-1
Karena Nyonya Mallard menderita penyakit jantung, maka adiknya, Josephine, memberitahukan kabar kematian suami kakaknya itu dengan sangat hati-hati. Kabar tersebut tidak dikatakannya secara langsung, namun dengan kalimat-kalimat yang mengandung penuh petunjuk.
Teman suaminya, Richards, juga hadir di sana. Dialah yang sedari tadi berada di kantor surat kabar ketika dia mendengar berita bahwa kereta yang ditumpangi temannya mengalami kecelakaan. Saat dia membaca daftar korban kecelakaan, dia melihat nama Brently Mallard berada di barisan teratas daftar korban yang tewas. Namun dia tidak serta merta menerima kebenaran informasi tersebut. Setelah telegram kedua tiba dengan informasi yang sama, dia segera bergegas ke rumah Nyonya Mallard, dan berharap agar tidak ada orang yang menyampaikan berita ini kepadanya dengan sembrono.
Setelah Josephine selesai berbicara, Nyonya Mallard hanya berdiri mematung seolah tidak begitu mengerti dengan kalimat-kalimat yang diucapkan oleh adiknya. Kemudian dengan tiba-tiba dia menangis sehisteris mungkin dalam dekapan Josephine. Ketika badai kesedihan dalam dirinya reda, dia beranjak pergi ke kamarnya. Sebelum pergi dia berpesan agar tidak ada seorangpun yang mengikutinya karena dia ingin menenangkan diri sejenak dan tidak ingin ada yang mengganggunya.
Di dalam kamarnya terdapat sebuah kursi santai yang diletakkan menghadap ke jendela yang terbuka. Di situlah ia duduk untuk melepas semua tekanan yang merasuki tubuh dan sampai ke jiwanya.
Dari sana dia dapat melihat pemandangan yang ada di depan rumahnya. Puncak-puncak pohon yang bergoyang dengan girangnya menyambut kedatangan musim semi. Harum napas hujan yang semerbak bergerak di udara. Lantunan nada dari sebuah lagu yang berasal dari kejauhan terdengar sayup-sayup. Dan ratusan burung pipit berkicau di atap rumahnya. Di langit yang biru awan berarak dan saling menumpuk.
Dia duduk dengan kepala bersandar pada bantal kursi, tidak bergerak sama-sekali, kecuali ketika isak tangis mencegat tenggorokannya dan menggetarkan tubuhnya, seperti seorang anak kecil yang menangis sampai tertidur lalu lanjut menangis dalam mimpinya.
Dia masih muda. Wajahnya selalu terlihat tenang dan bercahaya. Garis-garis pada wajahnya memberi kesan bahwa dia adalah seorang wanita yang berjiwa tangguh. Namun sekarang matanya menatap jemu awan di atas sana. Dia tidak sedang melamun. Dia hanya sedang memikirkan sesuatu.
Sebuah perasaan datang dan mencoba menghinggapinya. Dia tidak begitu mengerti apa yang sedang dirasakannya. Perasaan itu begitu halus dan sulit untuk dijelaskan. Tapi dia merasakannya dengan jelas. Seolah seperti sebuah aroma, perasaan itu memenuhi udara di sekitarnya.
Sekarang dadanya naik-turun dengan gaduh. Dia mulai dapat memahami perasaan yang menghantuinya ini. Dengan sekuat tenaga, Nyonya Mallard mencoba mengalahkan dan mengusir perasaan ini.
Ketika perasaan itu mulai menenggelamkan dirinya, seuntai bisikan kata keluar dari bibirnya yang sedikit terbuka. Nyonya Mallard mengulanginya berkali-kali, “Bebas, bebas, aku bebas!” Tatapan jemu dan rasa takut yang tadi menghantuinya, kini lenyap tak meninggalkan jejak. Matanya kembali tajam dan cerah. Nadinya berdebar kencang dan darahnya mengalir hangat di dalam pembuluh darahnya.
Dia bertanya-tanya apakah yang dirasakannya ini merupakan ledakan suka cita atau bukan. Namun firasatnya mengatakan agar mengabaikan hal sepele seperti ini. Tidak peduli apa yang sedang melandanya, yang terpenting adalah dia merasa sangat bahagia.
Dia sadar bahwa dia pasti akan menangis lagi ketika melihat tangan lembut suaminya terlipat dalam kematian. Dia juga membayangkan wajah suaminya, yang tampak tak pernah diisi dengan cinta terhadap dirinya, terbujur kaku dan pucat. Tapi dia tetap optimis. Dia mulai membayangkan hal-hal indah apa saja yang akan dia temui dalam hidupnya. Dengan membuka dan merentangkan kedua tangannya dia siap menyambut momen-momen indah tersebut.
Dia tidak akan lagi hidup demi orang lain. Dia akan hidup untuk dirinya sendiri. Menurut Nyonya Mallard, lelaki selalu berpikir bahwa kaum wanita harus selalu tunduk dan setia pada semua perintah suaminya, karena wanita harus mendahulukan kepentingan kaum pria. Namun sekarang tidak akan ada lagi yang bisa menghalangi niatnya. Dia akan bebas melakukan apapun sesuka hatinya tanpa larangan dari seorang suami. Jika mengingat kembali hari-hari yang dilalui bersama suaminya, Nyonya Mallard merasa tidak terlalu berdosa karena berpikir seperti ini.
Walau bagaimanapun, dia mencintai suaminya, kadang-kadang. Namun seringkali tidak. Toh, apa bedanya? Cinta sama sekali tidak dapat melakukan apapun untuk menahan sifat penonjolan diri yang merupakan sifat terbesar yang mendominasi dirinya.
“Bebas! Akhirnya tubuh dan jiwaku bebas!” bisik Nyonya Mallard.
Jophine berada di depan pintu kamar kakaknya, dan memohon agar diizinkan masuk. “Kakak, tolong buka pintunya. Kumohon, bukalah pintunya. Nanti kakak bisa sakit. Apa yang sedang kakak lakukan? Demi Tuhan, buka pintunya, kak!”
“Pergilah, Josephine. Aku tidak akan sakit.” Jelas tidak, karena Nyonya Mallard sedang meminum ramuan paling mujarab.
Khayalan tentang masa depannya yang indah semakin riuh dalam kepalanya. Dia membayangkan hari-hari yang akan dilalauinya dengan penuh bahagia. Dia memanjatkan doa singkat berharap hidupnya akan lama, agar dia dapat menikmati semua hari bahagia itu. Padahal baru saja kemarin dia berpikir bahwa dia akan menderita sepanjang hidupnya.
Akhirnya Nyonya Mallard berdiri dan membukakan pintu untuk menghilangkan rasa cemas adiknya. Matanya memancarkan kilatan kemenangan, dan tanpa disadari tubuhnya bergerak dan berjalan seperti Dewi Kemenangan. Dia meletakkan tangan di pinggang adiknya, dan turun bersama-sama. Richards masih berdiri menunggu mereka di lantai bawah.
Tiba-tiba, terdengar suara seperti seseorang yang berusaha membuka pintu depan. Setelah pintu terbuka, muncullah Brently Mallard dengan pakaiannya yang agak kumal karena telah menempuh perjalanan yang jauh. Dengan tenang dia masuk sambil membawa kantong jinjingan dan payungnya. Saat terjadi kecelakaan, ternyata dia sedang berada di tempat yang jauh karena dia telah lama turun dari kereta. Dia berdiri dengan heran melihat Josephine menangis meraung-raung, dan juga Richards yang bergerak dengan cepat membungkuk di dekat tubuh istrinya yang tergelak di lantai.
Tapi Richards tidak sempat menolongnya.
Ketika para dokter datang, mereka menjelaskan bahwa Nyonya Mallard meninggal karena serangan jantung. Pada akhirnya kegembiraanlah yang membunuh Nyonya Mallard.

Sumber :  https://cerpenterjemahan.wordpress.com/2015/07/23/the-story-of-an-hour/

Tiga Rambut Emas Iblis

Tiga Rambut Emas Iblis
Brothers Grimm

The-Devil-with-the-Three-Golden-Hairs-9781933317502Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang wanita dari keluarga sederhana yang melahirkan seorang anak laki-laki. Saat anaknya terlahir ke dunia, dia diramalkan akan selalu mendapatkan nasib yang baik dan menikahi putri dari sang Raja di ulang tahunnya yang keempat belas. Kebetulan sesaat setelah itu sang Raja mengunjungi desa tersebut, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa dia adalah seorang raja. Ketika dia bertanya ada apa gerangan yang terjadi di sana, mereka menjawab, “Seorang anak telah terlahir dan nasibnya akan selalu beruntung; apa pun yang terjadi dalam hidupnya akan berubah menjadi hal yang baik. Dia juga diramalkan akan menikahi putri dari sang Raja di ulang tahunnnya yang keempat belas.”
Sang Raja yang berhati jahat marah akan ramalan tersebut, dan memutuskan untuk menemui si orang tua. Dengan nada yang ramah dia berkata, “Kalian hidup miskin, jadi izinkanlah saya yang merawat anak itu.” Awalnya mereka menolak, namun ketika si orang asing menawarkan mereka emas yang berlimpah, kemudian mereka berkata, “Dia anak yang beruntung, dan semuanya akan baik-baik saja baginya.” Akhirnya mereka setuju menyerahkan anak mereka kepadanya.
Sang Raja menaruh anak tersebut di dalam sebuah kotak lalu menunggangi kudanya sampai dia tiba di sungai dengan air yang sangat dalam. Dia kemudian melemparkan bayi tersebut dan berpikir, “Aku telah membebaskan putriku dari calon suaminya yang tidak sepadan.”
Namun kotak yang membawa anak tersebut tidak tenggelam, melainkan mengapung-apung di permukaan sungai dan hanya sedikit saja air yang masuk ke dalamnya. Kemudian kotak tersebut mengapung sejauh dua mil dari ibu kota. Tidak jauh di sana terdapat sebuah rumah penggilingan yang berdiri di dekat bendungan. Seorang anak yang kebetulan sedang berdiri di dekat sungai melihat kotak tersebut dan menyeretnya ke permukaan dengan menggunakan pancingnya. Dia mengira bahwa dia telah menemukan sebuah kotak harta karun, namun ketika dia membukanya, dia menemukan seorang bayi yang manis terbaring di dalamnya, masih dalam keadaan hidup dan sehat. Dia membawanya kepada si pemilik penggilingan dan istrinya, dan karena mereka tidak memiliki anak, mereka menjadi sangat senang, lalu berkata, “Tuhan telah memberikannya kepada kita.” Mereka merawatnya dengan sangat baik dan anak itu pun tumbuh besar.
Beberapa tahun kemudian, saat terjadi badai besar, sang Raja berlindung di sana dan bertanya kepada si tukang giling dan istrinya apakah anak muda yang bertubuh tinggi tersebut merupakan anak mereka. “Tidak,” jawab mereka, “dia anak terlantar. Empat belas tahun yang lalu dia terhanyut sampai ke sini dalam sebuah kotak, dan seorang anak menemukannya di sana.”
Sang Raja segera mengetahui bahwa dia pastilah si anak beruntung yang pernah dibuangnya dahulu, kemudian dia berkata, “Rakyatku yang baik, apakah aku dapat meminta anak kalian untuk menyampaikan surat kepada ratuku? Aku akan menghadiahinya dengan dua bongkah emas.”
“Kami menyetujui perintah Yang Mulia,” jawab mereka, lalu mereka meminta anak tersebut untuk bersiap-siap.
Sang Raja kemudian menulis surat kepada sang Ratu, yang di dalamnya dia berkata, “Segera setelah anak ini tiba dengan surat ini, bunuh dia dan kubur jasadnya, dan semuanya harus sudah selesai dilakukan sebelum aku tiba di istana.”
Anak tersebut pergi dengan membawa surat dari sang Raja, namun dia tersesat dan saat malam hari dia tiba di hutan yang sangat besar. Dalam kegelapan dia melihat secercah cahaya kecil; dia berjalan ke arahnya dan sampai di sebuah gubuk. Saat dia masuk, seorang wanita tua sedang duduk sendirian di dekat perapian. Dia terkejut ketika melihat anak itu dan berkata, “Dari mana kau datang? Dan mau ke mana?”
“Aku datang dari rumah penggilingan,” jawabnya, “dan aku ingin pergi menemui sang Ratu, dan memberikan surat ini kepadanya; namun karena aku tersesat di hutan, aku ingin menginap di sini untuk malam ini saja.”
“Anak yang malang,” sahut wanita itu, “kau sekarang berada di sarang pencuri, dan saat mereka pulang, mereka akan membunuhmu.”
“Tidak apa-apa,” jawab anak tersebut, “aku tidak takut; aku sangat lelah dan tidak dapat berjalan lebih jauh lagi.” Kemudian dia membaringkan tubuhnya di sebuah bangku dan tertidur di sana.
Kemudian para pencuri tersebut pulang, dan dengan marah-marah mereka bertanya kenapa ada seorang anak tidur di sana? “Ah,” jawab wanita tua itu, “dia anak malang yang tersesat di hutan, dan karena kasihan padanya, kubiarkan dia masuk dan tidur di sana; dia diperintahkan untuk menyampaikan surat kepada sang Ratu.” Para pencuri tersebut mengambil suratnya lalu membacanya, dan di sana tertulis bahwa setelah anak itu tiba di istana, dia harus segera dibunuh. Kemudian para pencuri yang awalnya berhati keras itu pun luluh, ketua mereka lalu merobek surat tersebut dan menulis surat baru yang menyampaikan bahwa setelah anak itu tiba di sana, dia harus segera dinikahkan dengan putri dari sang Raja. Mereka membiarkannya tertidur dengan pulas di atas bangku sampai keesokan harinya, dan ketika mereka membangunkannya, mereka memberikan surat yang baru tersebut kepadanya, lalu menunjukkan jalan yang benar agar dapat sampai ke istana.
Dan sang Ratu, setelah dia menerima surat tersebut dan membacanya, melakukan sesuai dengan yang tertulis dalam surat itu, lalu menyiapkan pesta pernikahan yang sangat meriah, putri sang Raja pun dinikahkan dengannya, dan karena pemuda itu sangat tampan dan baik hati, dia pun sangat bahagia hidup dengannya.
Tidak lama setelah itu, sang Raja pulang ke istana dan menyaksikan bahwa ramalan yang ditakutinya telah terpenuhi; bahwa si anak yang selalu beruntung tersebut menikah dengan putrinya. “Bagaimana itu bisa terjadi?” amuknya, “Aku memberikanmu perintah yang berbeda.”
Sang Ratu pun menyerahkan surat itu kepadanya, dan meminta sang Raja untuk membacanya sendiri. Sang Raja membacanya dan menyadari bahwa suratnya telah ditukar. Dia bertanya kepada pemuda tersebut apa yang telah terjadi dengan surat yang dipercayakan kepadanya, dan kenapa dia malah membawa surat yang isinya sangat berbeda.
“Saya tidak tahu apa-apa mengenai hal itu, Yang Mulia,” jawabnya, “mungkin suratnya telah ditukar pada malam hari ketika saya tertidur di hutan.”
Sang Raja kemudian menjadi berang, “Kau tidak bisa mendapatkan semua ini begitu saja; siapapun yang menikahi putriku harus membawakanku tiga helai rambut emas dari kepala sang Iblis di Neraka; bawakan apa yang kuminta, maka aku akan mengizinkanmu tetap bersama dengan putriku.” Dengan cara ini sang Raja berharap dia dapat melenyapkan anak tersebut selama-lamanya. Namun pemuda itu menjawab, “Saya akan membawakan rambut emas tersebut kepada Yang Baginda, saya tidak takut dengan sang Iblis.” Dia pun meninggalkan istana dan pergi memulai perjalanannya.
Jalan tersebut membawanya ke sebuah kota besar di mana seorang penjaga yang berdiri di sisi gerbang menanyakan apa keperluannya di sana, dan juga apa yang diketahuinya. “Aku tahu segalanya,” jawab pemuda yang selalu beruntung tersebut.
“Kalau begitu kau bisa membantu kami,” kata si penjaga gerbang, “kalau kau bisa memberitahu kenapa air mancur di pasar kami yang dulunya dapat mengeluarkan wine, kini menjadi kering, dan bahkan tidak memancurkan air sekalipun?”
“Aku akan segera memberitahumu,” jawabnya, “tapi tunggu setelah aku kembali.”
Kemudian dia berjalan lebih jauh lagi dan tiba di kota lain, dan di sana juga telah berdiri seorang penjaga gerbang yang bertanya apa keperluannya di sana, dan apa yang diketahuinya. Aku tahu segalanya,” jawabnya.
“Kalau begitu kau bisa membantu kami dan memberitahu kenapa sebuah pohon di kota kami yang dulunya selalu berbuah apel emas, kini bahkan tidak lagi menumbuhkan daun?”
“Aku akan segera memberitahumu,” jawabnya, “tapi tunggu setelah aku kembali.”
Kemudian dia melanjutkan perjalanannya dan tiba di sebuah sungai besar yang harus dilaluinya. Si pengayuh sampan bertanya apa keperluannya dan apa yang diketahuinya. “Aku tahu segalanya,” jawabnya.
“Kalau begitu kau dapat membantuku,” kata si tukang sampan itu, “dan beritahu aku kenapa aku harus selalu mengayuh bolak-balik, dan tidak ada seorang pun yang mau membebaskanku dari tugas ini?”
“Aku akan segera memberitahumu,” jawabnya, “tapi tunggu setelah aku kembali.”
Ketika dia menyeberangi sungai, dia menemukan gerbang menuju Neraka. Di dalamnya gelap dan dingin. Sang Iblis sedang tidak berada di rumah, namun neneknya sedang duduk di sofa besar. “Apa maumu?” Tanya sang nenek kepadanya, tapi dia tidak terlihat jahat.
“Aku ingin mengambil tiga helai rambut emas dari kepala sang Iblis,” jawabnya, “kalau tidak aku tidak dapat hidup bersama istriku.”
“Itu permintaan yang sangat besar,” ujarnya, “kalau sang Iblis pulang dan menemukanmu, dia akan segera menghabisi nyawamu; tapi karena aku merasa kasihan, akan kucoba untuk menolongmu.”
Dia merubahnya menjadi semut dan berkata, “Masuklah ke dalam lipatan bajuku, kau akan aman di sana.”
“Baiklah,” jawabnya, “tapi ada tiga hal yang juga ingin kuketahui: kenapa air mancur yang dulunya mengeluarkan wine kini menjadi kering; kenapa pohon yang dulunya dapat berbuah apel emas kini bahkan tidak lagi menumbuhkan daun; dan kenapa si tukang sampan harus mengayuh bolak-balik dan tidak pernah dibebaskan dari tugasnya?”
“Itu pertanyaan yang sulit,” ujarnya, “tapi kau harus diam dan perhatikan saja apa yang Iblis katakan saat aku mencabut tiga helai rambut emasnya.”
Malam harinya, sang Iblis pun pulang ke rumah. Tidak lama kemudian, dia menyadari bahwa udara di rumahnya telah tercemar. “Aku mencium bau daging manusia,” ujarnya, “ada yang tidak beres di sini.” Kemudian dia mengendus-endus ke setiap sudut rumah dan mencari asal bau tersebut, namun dia tidak dapat menemukan apa-apa.
Neneknya lalu memarahinya. “Aku baru saja selesai menyapunya, semuanya telah ditata rapi, dan kini kau membuatnya jadi berantakan lagi; kau selalu saja mencium bau manusia di hidungmu. Duduklah dan habisi makan malammu.”
Saat dia selesai makan dan mabuk, dia menjadi mengantuk, dan merebahkan kepalanya di pangkuan sang nenek, dan tidak lama kemudian dia tertidur lelap dan mendengkur keras. Kemudian neneknya mencabut sehelai rambut emasnya lalu menaruhnya di dekatnya. “Oh!” teriak sang Iblis, “apa yang nenek lakukan?”
“Aku mendapat mimpi buruk,” jawab sang nenek, “jadi aku tidak sengaja menarik rambutmu.”
“Nenek mimpi apa?” Tanya sang Iblis.
“Aku bermimpi kalau air mancur di pasar yang dulunya menyemburkan wine kini telah kering dan bahkan air pun tidak keluar dari sana; apa gerangan penyebabnya?”
“Oh, ho! Andai saja mereka mengetahuinya,” jawab sang Iblis, “ada katak yang duduk di bawah batu di dalam sumur; kalau mereka membunuhnya, wine pun akan mengalir lagi.”
Dia tertidur kembali dan mendengkur dengan kerasnya sampai jendela di dekat mereka bergetar. Kemudian dia mencabut helai rambut kedua.
“Ouch! Apa yang nenek lakukan?” teriak sang Iblis dengan geram.
“Jangan marah dulu,” ujar neneknya, “aku tanpa sengaja melakukannya lagi karena bermimpi buruk.”
“Apa yang nenek mimpikan kali ini?” tanyanya.
“Aku bermimpi bahwa di sebuah kerajaan, ada pohon apel yang dulunya dapat berbuah apel emas, tapi kini bahkan tidak sehelai pun daun yang tumbuh di pohonnya. Kira-kira, apa penyebabnya?”
“Oh! Kalau saja mereka tahu,” jawab sang Iblis. “Ada seekor tikus yang menggerogoti akarnya; kalau mereka membunuhnya, pohon itu akan kembali berbuah apel emas, tapi kalau tikus itu dibiarkan saja, maka pohon itu pun akan mati. Tapi jangan ganggu aku lagi dengan mimpi nenek; kalau nenek mengganggu tidurku lagi, aku akan sangat marah.”
Sang nenek menenangkannya dengan lemah lembut sampai dia tertidur pulas lagi dan mendengkur. Kemudian dia menarik helai rambut emas yang terakhir. Sang Iblis yang sangat terkejut langsung berdiri dan meraung, dan pasti telah memarahinya kalau saja neneknya tidak segera menenangkannya lagi dan berkata, “Jangan salahkan aku kalau aku mendapatkan mimpi buruk.”
“Kalau begitu, apa mimpi nenek?” tanyanya, dan terlihat sangat penasaran. “Aku bermimpi si pengayuh mengeluh karena dia selalu mengantar orang menyeberang sungai, dan tidak pernah dibebaskan dari tugasnya. Apa penyebabnya?”
“Ah! Orang bodoh itu,” jawab sang Iblis, “ketika ada yang datang dan ingin menyeberang, dia harus menyerahkan dayungnya ke tangan orang tersebut, sehingga orang tersebutlah yang harus mendayung sendiri dan dia pun dapat terbebas.” Karena neneknya telah mencabut tiga helai rambut emas dari kepala sang Iblis, dan tiga pertanyaannya pun telah terjawab, dia membiarkan Iblis tersebut tidur sampai fajar.
Ketika sang Iblis telah pergi, sang nenek pun mengeluarkan si semut dari lipatan bajunya, dan mengembalikannya ke wujud manusia. “Ini tiga helai rambut emas yang kau pinta,” ujarnya. “Dan apakah kau juga mendengar jawaban sang Iblis untuk ketiga pertanyaanmu?”
“Ya,” jawabnya, “aku mendengarnya, dan akan kucoba untuk tetap mengingatnya.”
“Kini kau telah mendapatkan apa yang kau inginkan,” ujarnya, “dan sekarang kau dapat pergi.” Dia berterima kasih kepadanya karena telah membantunya, dan meninggalkan Neraka dengan perasaan bahagia karena semuanya berjalan dengan sangat baik.
Ketika dia bertemu si tukang sampan, dia meminta jawaban yang telah dijanjikannya. “Antarkan dulu aku ke seberang,” pintanya, “kemudian aku akan memberitahumu bagaimana caranya agar kau dapat terbebas,” dan ketika dia sampai di seberang, dia memberikannya nasehat yang telah didengarnya dari sang Iblis, “Nanti, saat ada seseorang yang datang minta untuk diantarkan ke seberang, serahkan saja dayungnya kepadanya.”
Dia melanjutkan perjalanannya dan tiba di kota di mana pohon yang tidak berbuah tersebut berdiri, dan di sana sang penjaga gerbang pun meminta jawabannya. Jadi dia memberitahukan apa yang telah didengarnya dari sang Iblis, “Bunuh tikus yang menggerogoti akarnya, dan pohonnya pun akan kembali berbuah apel emas.” Kemudian si penjaga gerbang berterima kasih kepadanya, dan menghadiahinya dua keledai yang masing-masingnya membawa sekantong emas.
Akhirnya, sampailah dia di kota yang sumurnya kering. Dia memberitahukan apa yang telah didengarnya dari sang Iblis, “Ada seekor katak di bawah batu di dalam sumur; kalian harus menemukannya dan membunuhnya, dan sumur itu pun akan kembali mengalirkan wine.” Sang penjaga gerbang pun berterima kasih kepadanya, dan juga memberikannya dua keledai yang membawa dua kantong emas.
Pemuda itu pun tiba di istana dan menemui istrinya yang sangat bahagia karena dapat bertemu kembali dengannya, dan juga karena mendengar betapa kayanya dia sekarang. Dia membawakan apa yang diminta sang Raja, tiga helai rambut emas sang Iblis, dan ketika sang raja melihat empat keledai yang membawa berkarung-karung emas, dia pun menjadi sangat senang, dan berkata, “Sekarang semua syarat telah dipenuhi, dan kau boleh tetap bersama dengan putriku. Tapi katakan padaku, menantuku yang tersayang, dari mana kau mendapatkan emas sebanyak itu?”
“Aku menyeberangi sebuah sungai,” jawabnya, “di seberang, tepi sungainya terbuat dari emas, bukan pasir.”
“Apa aku juga boleh mengambilnya?” Tanya sang Raja dengan sangat antusias.
“Sebanyak yang Anda mau, Yang Mulia,” jawabnya. “Ada seorang tukang sampan di sana; minta agar dia menyeberangkan Anda, dan Anda dapat memenuhi karung-karung Anda dengan emas di sana.” Sang Raja yang tamak pun pergi dengan tergesa-gesa. Setibanya dia di sungai, dia mengisyaratkan kepada si tukang kayuh untuk menyeberangkannya. Si tukang kayuh pun menyuruhnya agar naik ke sampan, dan ketika mereka sampai di seberang, dia menyerahkan dayungnya kepada sang Raja dan langsung melarikan diri. Akhirnya, mulai dari saat itu, sang Raja pun harus terus mengayuh sebagai hukuman atas dosa-dosanya. Mungkin dia masih mengayuh? Kalau iya, itu karena belum ada orang yang mengambil dayung tersebut darinya.

Sumber :  https://cerpenterjemahan.wordpress.com/2015/08/04/the-devil-with-the-three-golden-hairs/

The Last Leaf (Helai Terakhir)

The Last Leaf

[Helai Terakhir]

last leafJalanan di distrik barat Washington Square membentuk sudut dan lika-liku yang aneh. Para seniman telah memadati tempat-tempat di sekitar sana dan membentuk koloninya sendiri. Sue dan Johnsy juga ikut mengisi tempat tersebut dan membuka studio seni sendiri di salah satu gedung yang besar. ‘Johnsy’ merupakan nama panggilan Joanna. Dia berasal dari Maine, dan Sue berasal dari California. Pada bulan Mei lalu, mereka bertemu di salah satu acara jamuan makan untuk para seniman. Setelah berbincang agak lama, mereka menyadari bahwa mereka memiliki selera seni yang sama, sehingga muncullah ide untuk membuka studio gabungan.
Sekarang bulan November. Sebuah makhluk asing tak kasat mata, yang disebut Pneumonia oleh dokter setempat, menyentuh satu per satu orang di koloni dengan tangannya yang sedingin es. Di wilayah timur, makhluk buas ini melangkah dengan pasti dan menghantam para korban-korbannya dengan sangat keras.
Tuan Pneumonia bukanlah seorang pria tua yang berjiwa ksatria. Seorang wanita yang berperawakan kecil sekali pun juga ikut dimangsanya. Dan Johnsy juga bukanlah pengecualian. Dia kini terbaring tak berdaya di tempat tidurnya. Dia hanya dapat memandang dinding bata di depan gedung mereka melalui bingkai jendela.
Pagi harinya seorang dokter datang untuk memeriksa kondisi kesehatannya. Setelah selesai, dia berbicara dengan Sue di luar kamar agar tidak terdengar oleh Johnsy.
“Kesempatannya untuk sembuh mungkin hanya satu banding… sepuluh,” ujar sang dokter sambil mengguncangkan-guncangkan termometer. “Dan kesempatan itu hanya ada jika dia ingin tetap bertahan hidup. Inilah salah satu hal yang tidak masuk akal dalam dunia paramedis. Terkadang seorang pasien yang sekarat sekalipun dapat sembuh total jika dia tetap berpikir optimis. Dan temanmu sepertinya telah sangat yakin bahwa dia tidak akan sembuh. Apa ada hal yang dipikirkannya?”
“Dia… dia ingin melukis Bay of Naples.” Jawab Sue.
“Melukis? Ya ampun! Apa tidak ada hal lain yang bisa dipikirkannya? Lelaki misalnya?”
“Lelaki?” sahut Sue dengan suara seperti petikan melodi harpa yang fals. “Apakah lelaki pantas untuk di… tapi, tidak, dokter. Dia tidak memikirkan hal-hal seperti itu.”
“Sayang sekali kalau begitu,” ujar sang dokter. “Aku akan berusaha sebaik mungkin dan melakukan semua hal yang dapat dilakukan secara ilmiah. Namun, begitu pasienku mulai menghitung berapa jumlah orang yang akan datang ke acara pemakamannya, aku akan mengurangi 50 persen kekuatan penyembuhan medisku. Jika kau dapat membuatnya bertanya tentang gaya jaket baru untuk musim dingin, maka kesempatannya untuk sembuh dapat menjadi satu banding lima.”
Setelah dokter tersebut pergi, Sue masuk ke ruang lukisnya dan menangis tersedu-sedu sampai membuat kusut serbet buatan Jepang miliknya. Kemudian dia berjalan dengan langkah pasti menuju kamar Johnsy sambil bersiul-siul dan membawa papan lukis.
Johnsy sedang berbaring di tempat tidurnya dengan wajah menghadap ke jendela. Sue berhenti bersiul. Dia mengira Johnsy sedang tidur.
Dia menyusun papannya dan mulai melukis untuk ilustrasi cerita di sebuah majalah. Seniman muda harus menapaki jalan menuju seni dengan melukis gambar untuk cerita di majalah yang ditulis oleh penulis muda yang menapaki jalannya menuju kesusastraan.
Saat Sue sedang menggambar sketsa seorang koboy Idaho yang mengenakan celana kulit panjang dan kaca mata, dia mendengar suara-suara pelan. Dia pun segera beralih ke sisi ranjang.
Mata Johnsy terbuka lebar. Dia sedang menatap jendela dan menghitung—menghitung mundur.
“Dua belas,” ujarnya, dan sebentar kemudian “sebelas”, lalu “sepuluh”, “sembilan”, dan “tujuh” dan “delapan”, hampir secara bersamaan.
Sue mengikuti arah pandangannya. Apa yang sedang dihitungnya? Di depan sana hanya ada halaman kosong yang suram, dan dinding bata sebuah gedung yang berjarak dua puluh kaki dari sana. Tanaman Ivy yang sudah tua merambat menutupi setengah dinding bata. Akarnya sudah mulai membusuk. Napas dingin musim gugur mencopot daun-daun dari batangnya dan membuatnya mirip seperti kerangka.
“Ada apa, sayang?” Tanya Sue.
“Enam,” bisik Johnsy. “Sekarang jatuh lebih cepat. Tiga hari yang lalu jumlahnya hampir seratus, dan kepalaku sakit karena menghitungnya. Namun sekarang lebih mudah. Itu ada satu lagi yang jatuh. Sekarang sisa lima.”
“Lima apa, sayang? Beritahu Sudie.”
“Daun di tanaman ivy. Ketika daun terakhir gugur, aku juga harus ikut pergi. Aku sudah memutuskannya tiga hari yang lalu. Apa dokter tidak memberitahukannya padamu?”
“Oh, aku tidak pernah mendengar omong kosong seperti itu,” omel Sue dengan ekspresi mencibir yang berlebihan. “Apa hubungannya antara daun tanaman ivy dengan kesehatanmu? Dan bukankah kau dulu sangat menyukai tanaman itu, dasar anak nakal. Jangan berpikir hal-hal yang bodoh. Tadi dokter mengatakan kepadaku bahwa kesempatanmu untuk sembuh adalah—ini yang benar-benar dikatakannya—sepuluh banding satu! Sangat besar, bukan? Ayo, makanlah sup kaldu ini, jadi Sudie dapat kembali melukis, lalu menjualnya kepada editor, membelikan wine untuk anaknya yang sedang sakit, dan potongan daging pork untuk dirinya sendiri.”
“Kau tidak perlu membelikanku wine,” ujar Johnsy. Pandangannya tidak beralih dari jendela. “Satu lagi daun gugur. Tidak, aku sedang tidak selera makan. Sekarang sisa empat. Aku ingin melihat daun terakhir gugur sebelum malam tiba. Lalu aku akan pergi juga.”
“Johnsy, sayang,” sahut Sue sambil membungkukkan badannya ke dekat Johnsy, “maukah kau berjanji padaku untuk menutup matamu dan tidak menatap jendela sampai aku selesai melukis? Aku harus menyerahkan gambar tersebut besok. Aku butuh penerangan, kalau tidak aku harus menggambar bayangannya juga.”
“Bukankah kau bisa menggambar di ruang lain?” Tanya Johnsy dengan ketus.
“Aku ingin di sini menemanimu,” ujar Sue. “Lagipula, aku tidak mau kau terus-terusan menatap daun ivy bodoh itu.”
“Beritahu aku begitu kau sudah selesai,” kata Johnsy. Dia lalu menutup matanya dan berbaring. Kulitnya yang pucat membuatnya tampak seperti patung, “karena aku sangat ingin melihat daun terakhir gugur. Aku lelah menunggu. Aku lelah berpikir. Aku ingin melepas semua yang mengikatku, dan terbang berlabuh, seperti dedaunan malang nan renta itu.”
“Cobalah untuk tidur,” sahut Sue. “Aku harus memanggil Behrman untuk menjadi modelku. Aku hanya pergi barang sebentar. Jangan banyak bergerak sampai aku kembali.”
Behrman tua adalah seorang pelukis yang tinggal di lantai dasar di bawah mereka. Umurnya sudah lewat enam puluh. Dia memiliki janggut keriting ala Michael Angelo dan tubuh seperti imp. Behrman sama sekali tidak memiliki kemampuan seni. Empat tahun sudah dia menggores kuasnya tanpa hasil apapun. Dia selalu hampir melukis sebuah maha karya, namun tidak pernah memulainya. Selama beberapa tahun dia tidak melukis apapun. Namun terkadang dia memulas garis di papan iklan. Penghasilannya yang kecil didapatnya dengan menjadi model untuk seniman muda di koloni yang tidak dapat membayar jasa professional. Dia minum gin berlebihan, dan masih mengumbar tentang maha karya yang akan dibuatnya. Selebihnya, dia hanya pria lansia yang galak. Dia sering mencemooh kelembutan seseorang, dan menganggap dirinya sendiri sebagai pelindung khusus bagi dua seniman muda di studio di lantai atas.
Sue bertemu Behrman yang berbau tajam alkohol di sarangnya yang remang-remang di lantai bawah. Di sudut ruangan ada kanvas kosong yang sejak dua puluh lima tahun lalu telah siap untuk menerima goresan pertama maha karyanya. Dia menceritakan keadaan Johnsy, dan betapa takutnya dia jika Johnsy, yang serapuh daun, akan terbang pergi ketika pegangan kecilnya terhadap dunia ini semakin melemah.
Behrman tua, dengan matanya yang merah, meneriakkan kekesalannya terhadap pikiran bodoh tersebut.
“Astaga!” teriaknya. “Apa ada orang di dunia ini yang mati dengan bodoh hanya karena sehelai daun jatuh dari batang jahanamnya? Aku belum pernah mendengar hal semacam itu. Tidak, aku tidak mau berpose sebagai modelmu. Kenapa kau membiarkan pikiran bodoh semacam itu merasuki pikirannya? Ah, Miss Johnsy yang malang.”
“Dia sangat sekarat dan lemah,” ujar Sue, “dan demam membuat pikirannya tidak waras dan penuh dengan imajinasi gila. Baiklah, Tuan Behrman, kalau kau tidak mau berpose untukku, tidak apa-apa. Tapi kurasa kau memang orang tua yang kejam, cerewet, dan banyak tingkah.”
“Dasar wanita!” teriak Behrman. “Siapa bilang aku tidak mau berpose? Ayo, aku ikut denganmu. Selama setengah jam aku mencoba mengatakan bahwa aku siap untuk berpose. Hanya saja ini bukan tempat yang tepat. Suatu hari nanti aku akan melukis sebuah maha karya, dan kita semua akan pergi.”
Johnsy sedang tertidur pulas ketika mereka naik ke atas. Sue menurunkan tirai jendelanya, dan menyuruh Behrman masuk ke ruang yang lain. Di sana, mereka menatap tanaman ivy di luar jendela dengan cemas. Kemudian mereka saling menatap sepintas tanpa berbicara. Hujan bercampur salju yang sangat dingin turun dengan derasnya. Behrman, yang mengenakan kaus biru usangnya, duduk dan mulai berpose.
Ketika Sue terbangun keesokan pagi dari tidurnya yang hanya satu jam, dia melihat Johnsy dengan matanya yang telah terbuka lebar menatap bosan tirai jendela.
“Angkat tirainya. Aku mau melihat,” perintahnya dengan berbisik.
Dengan enggan Sue menurutinya.
Namun anehnya, setelah hujan deras dan angin kecang sepanjang malam, masih ada satu helai daun tanaman ivy menempel di dinding bata. Itu adalah daun ivy terakhir. Warnanya masih hijau gelap di dekat cabangnya. Dengan gagah berani daun tersebut menggantung dua puluh kaki dari permukaan.
“Itu daun yang terakhir,” ujar Johnsy. “Kupikir tidak akan ada lagi yang bertahan selama badai semalam. Seharusnya daun itu gugur hari ini, dan aku harus mati juga.”
“Sayang, sayang!” sahut Sue sambil menempelkan wajahnya yang telah terlihat letih di atas bantal, “pikirkan aku, kalau kau tidak ingin memikirkan dirimu sendiri. Apa yang bisa kulakukan tanpamu?”
Namun Johnsy tidak menjawab. Kesepian yang paling mendalam di dunia ini adalah ketika sebuah jiwa siap untuk berangkat pergi ke perjalanan misteriusnya yang sangat jauh. Keinginan itu akan semakin merasukinya saat satu per satu ikatannya pada pertemanan dan dunia ini mulai melonggar.
Waktu pun berlalu, dan bahkan setelah menjelang senja, mereka masih dapat melihat daun ivy itu menggantung di batangnya yang menempel di dinding. Dan kemudian, datanglah lagi angin utara, bersamaan dengan hujan yang menderu di jendela dan merembes di dinding kamar mereka.
Ketika hari cukup terang, Johnsy dengan tidak sabaran memerintahkan Sue untuk mengangkat tirainya.
Daun ivy tersebut masih menggantung di sana.
Johnsy berbaring cukup lama memandangnya. Dan kemudian dia memanggil Sue yang sedang mengaduk kaldu ayamnya di atas kompor gas.
“Aku sudah bersikap buruk, Sudie,” ujar Johnsy. “Sesuatu membuat daun terakhir itu bertahan di sana untuk menunjukkan padaku betapa kejinya aku. Menginginkan kematian merupakan sebuah dosa. Tolong bawakan aku semangkuk sup kaldu sekarang, dan susu dengan sedikit wine, dan… tidak, ambilkan cermin dulu, dan tumpuk bantal di sekitarku, aku ingin duduk sambil melihat kau memasak.”
Dan satu jam kemudian dia berkata, “Sudie, suatu hari kuharap aku dapat melukis Bay of Naples.”
Dokter datang siang harinya, dan Sue mengikutinya keluar saat dokter itu hendak pergi.
“Kesempatannya besar,” kata sang dokter sambil menjabat tangan Sue yang kurus. “Dengan perawatan yang baik, dia akan sembuh. Dan sekarang aku harus menangani pasienku di bawah. Namanya Behrman—kalau tidak salah dia seorang seniman. Pneumonia juga. Dia orang tua yang sudah renta, sakitnya sangat akut. Tidak ada harapan untuknya, tapi dia pergi ke rumah sakit hari ini agar mendapat perawatan yang lebih baik.”
Keesokan harinya dokter mengatakan kepada Sue, “Kondisinya sudah tidak lagi membahayakan. Sekarang berikan dia nutrisi dan perawatan yang cukup—itu saja.”
Siang hari itu Sue masuk ke kamar Johnsy. Dia sedang berbaring dan merajut scarf yang berwarna biru terang dengan riang. Sue melingkarkan satu tangannya di pundak Johnsy.
“Ada yang ingin kukatakan padamu, sayang,” ujarnya. “Tuan Behrman meninggal karena pneumonia di rumah sakit hari ini. Dia jatuh sakit selama dua hari. Petugas kebersihan menemukannya berbaring tak berdaya di pagi hari pertama di kamarnya. Sepatu dan bajunya basah kuyup dan sedingin es. Mereka tak dapat membayangkan di mana dia saat hujan badai malam itu. Kemudian mereka menemukan lentera yang masih menyala, tangga yang telah dipindahkan dari posisi semula, kuas yang berserakan, dan palet yang telah dicampurkan warna hijau dan kuning, dan—lihatlah ke luar jendela, sayang, lihat daun ivy terakhir itu. Apakah kau tidak heran ketika daun itu tidak pernah bergoyang sedikitpun ketika angin berhembus? Ah, sayang, itulah maha karya Behrman—dia melukisnya di malam saat daun terakhir gugur.”

Sumber :  https://cerpenterjemahan.wordpress.com/2015/07/23/the-last-leaf/

Grethel yang Cerdik

Grethel yang cerdik
      

          Dahulu kala ada seorang tukang masak yang bernama Grethel yang suka memakai sepatu bertumit merah, yang ketika keluar rumah selalu merasa bebas dan memiliki perasaan yang sangat baik. Ketika dia kembali ke rumah lagi, dia selalu meminum segelas anggur untuk menyegarkan diri, dan ketika minuman anggur tersebut memberi nafsu makan kepadanya, dia akan memakan makanan yang terbaik dari apapun yang dimasaknya hingga dia merasa cukup kenyang. Untuk itu dia selalu berkata "Seorang tukang masak harus tahu mencicipi apapun".
Suatu hari tuannya berkata kepadanya "Grethel, saya menunggu kedatangan tamu pada malam ini, kamu harus menyiapkan sepasang masakan ayam".

"Tentu saja tuan" jawab Grethel. Lalu dia memotong ayam, membersihkannya dan kemudian mencabuti bulunya, lalu ketika menjelang malam, dia memanggang ayam tersebut di api hingga matang. Ketika ayam tersebut mulai berwarna coklat dan hampir selesai dipanggang, tamu tersebut belum juga datang.
"Jika tamu tersebut tidak datang cepat" kata Grethel kepada tuannya, "Saya harus mengeluarkan ayam tersebut dari api, sayang sekali apabila kita tidak memakannya sekarang justru pada saat ayam tersebut hampir siap." Dan tuannya berkata dia sendiri akan berlari mengundang tamunya. Saat tuannya mulai membalikkan badannya, Grethel mengambil ayam tersebut dari api.
"Berdiri begitu lama dekat api," kata Grethel, "membuat kita menjadi panas dan kehausan, dan siapa yang tahu apabila mereka akan datang atau tidak! sementara ini saya akan turun ke ruang penyimpanan dan mengambil segelas minuman." Jadi dia lari kebawah, mengambil sebuah mug, dan berkata, "Ini dia!" dengan satu tegukan besar. "Satu minuman yang baik sepantasnya tidak disia-siakan," dia berkata lagi "dan tidak seharusnya berakhir dengan cepat," jadi dia mengambil tegukan yang besar kembali. Kemudian dia pergi keatas dan menaruh ayam tadi di panggangan api kembali, mengolesinya dengan mentega. Sekarang begitu mencium bau yang sangat sedap, Grethel berkata, "Saya harus tahu apakah rasanya memang seenak baunya," Dia mulai menjilati jarinya dan berkata lagi sendiri, "Ya.. ayam ini sangat sedap, sayang sekali bila tidak ada orang disini yang memakannya!"
Jadi dia menengok keluar jendela untuk melihat apakah tuan dan tamunya sudah datang, tapi dia tidak melihat siapapun yang datang jadi dia kembali ke ayam tersebut. "Aduh, satu sayapnya mulai hangus!" dan berkata lagi, "Sebaiknya bagian itu saya makan." Jadia dia memotong sayap ayam panggang tersebut dan mulai memakannya, rasanya memang enak, kemudian dia berpikir,
"Saya sebaiknya memotong sayap yang satunya lagi, agar tuanku tidak akan menyadari bahwa ayam panggang tersebut kehilangan sayap disebelah." Dan ketika kedua sayap telah dimakan, dia kembali melihat keluar jendela untuk mencari tuannya, tetapi masih belum juga ada yang datang.
"Siapa yang tahu, apakah mereka akan datang atau tidak? mungkin mereka bermalam di penginapan."Setelah berpikir sejenak, dia berkata lagi "Saya harus membuat diri saya senang, dan pertama kali saya harus minum minuman yang enak dan kemudian makan makanan yang lezat, semua hal ini tidak bisa disia-siakan." Jadia dia lari ke ruang penyimpanan dan mengambil minuman yang sangat besar, dan mulai memakan ayam tersebut dengan rasa kenikmatan yang besar. Ketika semua sudah selesai, dan tuannya masih belum datang, mata Grethel mengarah ke ayam yang satunya lagi, dan berkata, "Apa yang didapat oleh ayam yang satu, harus didapat pula oleh ayam yang lain, sungguh tidak adil apabila mereka tidak mendapat perlakuan yang sama; mungkin sambil minum saya bisa menyelesaikan ayam yang satunya lagi." Jadi dia meneguk minumannya kembali dan mulai memakan ayam yang satunya lagi.
Tepat ketika dia sedang makan, dia mendengar tuannya datang. "Cepat Grethel," tuannya berteriak dari luar, "tamu tersebut sudah datang!" "Baik tuan," dia menjawab, "makanan tersebut sudah siap." Tuannya pergi ke meja makan dan mengambil pisau pemotong yang sudah disiapkan untuk memotong ayam dan mulai menajamkannya. Saat itu, tamu tersebut datang dan mengetuk pintu dengan halus. Grethel berlari keluar untuk melihat siapa yang datang, dan ketika dia berpapasan dengan tamu tersebut, dia meletakkan jarinya di bibir dan berkata, "Hush! cepat lari dari sini, jika tuan saya menangkapmu, ini akan membawa akibat yang buruk untuk kamu; dia mengundangmu untuk makan, tetapi sebenarnya dia ingin memotong telingamu! Coba dengar, dia sedang mengasah pisaunya!"
 Tamu tersebut, mendengarkan suara pisau yang diasah, berbalik pergi secepatnya. Dan Grethel berteriak ke tuannya, "Tamu tersebut telah pergi membawa sesuatu dari rumah ini!".
"Apa yang terjadi, Grethel? apa maksud mu?" dia bertanya.
"Dia telah pergi dan membawa lari dua buah ayam yang telah saya siapkan tadi."
"Itu adalah sifat yang buruk!" kata tuannya, dia merasa sayang pada ayam panggang tersebut; "dia mungkin mau menyisakan satu untuk saya makan." Dan dia memanggil tamunya dan menyuruhnya untuk berhenti, tetapi tamu tersebut seolah-olah tidak mendengarnya; kemudian tuannya tersebut mulai berlari mengejar tamunya dengan pisau masih ditangan dan berteriak,"hanya satu! hanya satu!" dia bermaksud agar tamu tersebut setidak-tidaknya memberikan dia satu ayam panggang dan tidak membawa kedua-duanya, tetapi tamu tersebut mengira bahwa dia menginginkan satu telinganya, jadi dia berlari semakin kencang menuju kerumahnya sendiri.
 
Sumber:http://dongeng1001cerita.blogspot.co.id/2013/10/grethel-yang-cerdik-grimm-bersaudara.html

Si Janggut Biru

Si Janggut Biru

          Dahulu kala seorang lelaki kaya, diberi julukan ‘Janggut Biru’ tinggal di istana besar di tengah hutan. Suatu hari ia berkunjung ke keluarga yang mempunyai tiga gadis remaja. Menyaksikan kedatangannya, ketiga gadis muda itu sangat ketakutan oleh warna janggutnya yang biru, sehingga mereka bersembunyi ketika dipanggil. Untuk meyakinkan niat baiknya, maka ia mengundang mereka jalan-jalan ke hutan. Ia datang mengendarai kereta kencana yang indah. Mereka semua, termasuk ibu ketiga putri itu bersedia diajak naik kereta dan menikmati keindahan hutan. Mereka sungguh mengalami tamasya yang menyenangkan. Si Janggut Biru memperlakukan mereka dengan baik. Para gadis muda itu lalu berpikir, “Ah barangkali laki-laki ini tidaklah seburuk yang kuduga.”

            Mereka pulang ke rumah dengan rasa puas. Namun kedua gadis yang terbesar kembali merasakan rasa takut dan curiga dan mereka bersumpah tidak akan mau menemui si Janggut Biru lagi. Sedangkan si Bungsu berpikir, “Kalau laki-laki itu bisa begitu ramah dan baik hati….barangkali ia bukan orang yang jahat.”
       Semakin lama ia memikirkan hal itu, semakin takutnya menghilang, dan semakin pudarlah warna biru janggutnya menurut penglihatan si Bungsu. Maka ketika lelaki berjanggut biru melamarnya, ia menerima. Ia membayangkan menikah dengan lelaki yang elegan. Mereka pun menikah. Segera sesudah upacara pernikahan usai, Si Bungsu diboyong ke istana, tempat kediaman Si Janggut Biru.
          Suatu hari si Janggut Biru berkata kepada isterinya. “Aku mau pergi agak lama, isteriku. Engkau boleh melakukan apa saja yang kau sukai, panggillah saudara-saudaramu, adakanlah perjamuan, dan bersenang-senanglah. Kupercayakan kepadamu kunci-kunci ini. Engkau boleh membuka semua ruang dalam istana ini, pintu mana saja; tapi ada satu kunci yang tak boleh kau gunakan, kunci kecil dengan ukiran di ujungnya, jangan kau gunakan sama sekali,” pesannya.

Si Bungsu menjawab, “Aku akan melakukan pesanmu, kedengarannya menyenangkan. Pergilah suamiku sayang, jangan khawatir dan cepatlah pulang.”

      Beberapa hari kemudian, kedua kakak perempuannya datang, penuh rasa ingin tahu, mereka menanyakan apa saja pesan sang suami yang mesti dikerjakan selama ia pergi. Si Bungsu dengan ceria mengatakan semua yang dipesan oleh suaminya. Lalu ketiga bersaudari itu sepakat melakukan suatu permainan, yakni mencocokkan kunci-kunci tersebut. Istana itu terdiri atas tiga tingkat, dengan ratusan kamar pada setiap sisi.

          Semangat mereka tak kunjung memudar melakukan permainan tersebut. Mereka lebih bersemangat lagi ketika mengetahui semakin tersembunyi ruangan tersebut semakin indah isinya. Akhirnya, mereka sampai di suatu ruang di bawah tanah. Di ujung koridor terdapat pintu, yang mendadak terbuka dan menutup kembali, dengan desis yang aneh. Mereka membukanya kembali, tetapi pintu itu terkunci. Salah seorang berteriak memanggil Si Bungsu, “Adik, kemarilah..bawa kuncinya….Pastilah pintu ini hanya bisa dibuka oleh kunci kecil yang misterius itu.”

        Tanpa berpikir panjang salah seorang di antara mereka memasukkan kunci pada pintu dan memutarnya. Pintu itu akhirnya dapat di buka, tetapi gelap sekali, sehingga sang kakak meminta si Bungsu untuk mengambil lilin. Dan saat cahaya temaram lilin menerangi kamar itu, samar-samar mereka melihat pemandangan mengerikan. Ruang itu penuh darah, bau kematian ada di mana-mana, ada tengkorak dan bagian-bagian tubuh lain.

        Mereka menjerit terkejut dan ketakutan. Dengan gemetaran mereka menutup pintu, menguncinya kembali dan menarik kunci dari pintu. Tetapi malang, ada darah menempel menodai kunci kecil terlarang. Si Bungsu dengan panik berusaha menghilangkan noda darah pada kunci kecil itu. Dicobanya segala alat dan cara, tetapi noda darah tidak menghilang. Disembunyikannya kunci itu di lemari pakaiannya.

         Beberapa hari kemudian, si Janggut Biru pulang dan sangat marah mengetahui bahwa ruang rahasia telah dibuka. Darah pada kunci tak mampu mengelabuinya. Kekejamannya segera muncul, tanpa rasa kasihan ia menarik isterinya ke ruang bawah, hendak membunuhnya di sana. Syukurlah sang putri cerdik, ia tak menyerah, begitu saja. “Suamiku, please, izinkan aku kembali ke kamarku untuk berdoa sebelum kematianku,” ujarnya. Si Janggut Biru berteriak,”Pergilah dan segera kembali!”

          Ternyata si Bungsu tidak berdoa, melainkan memanggil saudarinya minta bala bantuan. Bantuan tiba pada saat yang tepat, persis ketika Si Janggut Biru menyusul ke kamar. Di gang, bala bantuan saudara dan saudari si Bungsu menyambutnya dengan tebasan pedang.

Lelaki berjanggut biru akhirnya dapat dibunuh dan si Bungsu selamat.
 
Sumber :  http://dongeng1001cerita.blogspot.co.id/2013/10/si-janggu-biru-perrault.html

Tujuh Gadis yang Cemburu

Tujuh Gadis yang Cemburu (Afrika)

Alkisah ada seorang gadis yang sangat cantik di desa Ibibio, Afrika, bernama Akim yang artinya musim semi yang cantik. Kecantikannya membuat iri gadis-gadis lain yang mengenalnya. Terlebih lagi Akim juga memiliki bentuk tubuh yang semampai, dan juga memiliki pembawaan diri yang sangat luwes, yang membuat setiap pria yang melihatnya akan lupa diri. Kedua orangtuanya sangat menyayanginya, bahkan terlalu melindunginya. Mereka bahkan melarang anak satu-satunya ini bergaul dengan gadis-gadis lainnya. Untunglah Akim gadis yang penurut. Meskipun ia sangat ingin pergi bermain bersama gadis-gadis lain sebayanya, namun ia tetap dengan rajin dan senang hati membantu pekerjaan orang tuanya.

Suatu hari saat ia sedang mengambil air di mata air, ia berjumpa dengan 7 orang gadis sebayanya yang hendak pergi menonton pertunjukan di desa sebelah.
“Hai Akim, ikutlah bersama kami. Kita akan bersenang-senang dan berkumpul dengan anak muda lainnya di desa sebelah,” kata salah seorang dari mereka.
“Oh, aku ingin sekali ikut bersama kalian. Tapi maafkan aku! Aku tidak bisa karena masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan,” kata Akim sambil memperlihatkan tempayan-tempayan kosong yang harus diisinya.

Ketujuh gadis itu sebenarnya merasa iri dengan kecantikan Akim. Mereka sering berkumpul hanya untuk menceritakan kebencian mereka kepada Akim. Peristiwa kemarin semakin menambah ketidaksukaan mereka. Mereka mencari ide untuk memberi pelajaran kepada Akim. Akhirnya mereka sepakat untuk datang ke rumah Akim setiap hari dan membantunya bekerja, dengan demikian Akim akan menganggap mereka sahabatnya.

Esoknya mereka memulai rencana mereka. Akim tentu terkejut tapi juga senang dengan kedatangan mereka. Pekerjaannya menjadi cepat selesai dan ia bisa berkumpul dengan teman sebayanya. Tapi orang tua Akim yang tidak percaya dengan ketulusan mereka, tetap melarang Akim bergaul dengan mereka.

Akhir tahun pun tiba. Seperti biasa di akhir tahun, selalu diadakan pesta besar untuk menyambut tahun baru. Kedua orang tua Akim pun turut diundang untuk datang ke pesta yang diadakan di desa yang jauhnya dua hari berjalan kaki. Akim ingin sekali ikut, tapi orang tuanya memberinya banyak sekali pekerjaan supaya ia tidak bisa datang.

Pada hari perayaan, ketujuh gadis itu datang ke rumah Akim untuk mengajaknya pergi ke pesta.
“Sayang sekali aku tidak bisa ikut,” kata Akim sedih. “Lihatlah! Aku harus mengisi semua tempayan ini, membersihkan dinding dan mengepel lantai. Setelah itu aku harus membersihkan semua ranting di halaman dan membereskan rumah. Jadi aku tidak akan sempat pergi ke pesta.”

Ketujuh gadis itu segera mengambil alih pekerjaan Akim dan dalam beberapa saat saja semuanya beres.
“Nah sekarang kau bisa ikut dengan kami,” kata mereka.
Maka Akim pun dengan senang hati pergi dengan mereka.

Sekitar setengah perjalanan menuju desa tempat diselenggarakannya pesta, ada sebuah sungai kecil yang harus disebrangi dengan menggunakan rakit. Dan di sungai itu tinggallah dewa sungai yang sangat berkuasa dan kejam. Siapapun yang menyebrangi sungai itu dua kali atau bolak-balik, maka saat penyebrangan keduanya ia harus melemparkan sesajen berupa makanan untuk sang dewa sungai. Jika tidak, maka dewa Sungai akan menariknya ke dalam air dan menawannya di dalam istananya di dasar sungai. Ketujuh gadis itu tentu saja tahu betul karena mereka sering bepergian ke banyak tempat. Tetapi Akim yang selalu tinggal di rumah, tidak tahu menahu mengenai hal itu.

Mereka menyebrangi sungai tanpa kesulitan. Seekor burung kecil yang terpesona dengan kecantikan Akim, berkicau riang di atas sebuah ranting, membuat ketujuh gadis itu bertambah berang. Mereka meneruskan perjalanan, dan setelah perjalanan yang melelahkan, tibalah mereka di tempat pesta berlangsung.

Meskipun ketujuh gadis itu memakai baju dan perhiasan terbaiknya, namun Akimlah yang menjadi pusat perhatian di pesta itu. Semua pemuda berebut untuk mengajaknya berdansa. Dan tentu saja hal ini membuat ketujuh gadis ini semakin murka.

Akhirnya orang tua Akim mengetahui kehadiran Akim di pesta itu. Mereka marah dan menyuruh Akim untuk segera pulang. Ketika Akim menceritakan hal itu kepada ketujuh gadis itu, mereka berkata “Baiklah, kami akan mengantarmu pulang. Tapi sebelumnya kami harus makan dulu. Jadi, tunggulah sebentar lagi.”

Tanpa sepengetahuan Akim, ketujuh gadis itu masing-masing menyembunyikan sedikit makanan di kantung mereka. Sementara Akim yang tidak tahu menahu, meninggalkan pesta itu tanpa membawa sepotong makanan pun.

Ketika tiba di tepi sungai, ketujuh gadis itu berjongkok, meminta ijin kepada dewa Sungai lau melemparkan makanan yang dibawanya. Akim terkejut, ia memohon kepada mereka untuk membagi sedikit makanannya, namun mereka menolak.
Benar saja, ketika rakit yang mereka tumpangi tiba di tengah sungai, dewa sungai menarik Akim ke dasar sungai. Ketujuh gadis itu pulang dengan hati puas, karena telah berhasil menjalankan rencananya.

Orang tua Akim yang tiba esok harinya, terkejut mendapati rumah mereka masih terkunci dan anak mereka hilang entah kemana. Ketujuh gadis yang mereka tanyai mengaku Akim telah pulang dengan selamat dan setelah itu mereka belum bertemu lagi dengannya.

Dengan putus asa, orang tua Akim bertanya pada tukang rakit yang menyebrangkan mereka. Darinya ia tahu bahwa Akim telah ditawan oleh dewa Sungai. Burung di pinggir sungai itu juga ikut memberi kesaksian mengenai kekejaman ketujuh gadis yang tidak mau memberi sedikit makanan mereka kepada Akim.
“Oh, celakalah anakku,” kata ayah Akim dengan sedih.
“Jangan khawatir! Aku tahu caranya membujuk dewa Sungai,” kata tukang rakit.
“Bagaimana caranya?” tanya ayah Akim.
“Besok, bawalah seekor sapi, sekeranjang telur dan segulung kain putih untuk ditukar dengan anakmu. Dewa sungai akan melemparkan anakmu sebanyak 7 kali. Tapi jika kau gagal menangkapnya pada lemparan yang ke tujuh, maka gadis itu akan hilang selamanya,” jelasnya.

Esoknya orang tua Akim membawa persyaratan yang diminta dan melemparkannya ke tengah sungai dan memohon agar anak mereka dikembalikan. Tiba-tiba dari dalam sungai, terlontarlah tubuh Akim yang langsung ditangkap oleh ayahnya. Maka mereka pun pulang dengan bahagia.

Ayah Akim yang masih mendendam kepada ketujuh gadis itu, merencanakan untuk membalas dendam. Dia menggali sebuah lubang yang dalam di salah satu sudut rumahnya. Lubang itu kemudian diisinya dengan daun-daun kering. Di atasnya ia gelar sebuah kasur tipis. Kemudian ia mengundang warga desa untuk berpesta merayakan kembalinya Akim.

Ketujuh gadis itu awalnya tidak mau datang karena takut, namun ayah Akim sengaja datang ke rumah mereka masing-masing dan memohon mereka untuk datang.

Ayah Akim pura-pura menyambut mereka dengan ramah dan mepersilahkan mereka untuk duduk di kasur yang telah disediakan. Begitu mereka duduk di atasnya, mereka pun jatuh ke dalam lubang.
“Inilah balasan bagi kalian,” kata ayah Akim sambil melemparkan sebatang obor ke dalam lubang yang langsung membakar daun-daun kering di dalamnya.
Ketujuh gadis itu berteriak minta ampun, namun api dengan cepat melahap tubuh mereka sehingga tewas.